Mencari "Kue" yang Tersisa

SuaraBanyuurip.com - 

Oleh : Athok Moch Nur Rozaqy

GEMERLAP proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi (Engineering, Procurement and Constructions/EPC) Banyuurip, Blok Cepu, yang bersentra di Kecamatan Gayam, Kabupten Bojonegoro, Jawa Timur, tak terasa sudah berjalan tiga tahun. Banyak peluang pekerjaan dan usaha yang ditangkap warga sekitar desa terdampak, hingga luar daerah Bojonegoro.

Tak mengherankan jika proyek yang dikelola oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), anak perusahaan raksasa migas Amerika Serikat, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) itu sempat diibaratkan seperti kue. Tentu ada nilai filosofi tersendiri dibalik analogi yang muncul tersebut.

Proyek Lapangan Banyuurip merupakan salah satu proyek dengan jumlah investasi triliunan rupiah. Bahkan predikat “mega” proyek sempat tersemat. Para elit pemerintah dan kontraktror secara kompak menyebut proyek Banyuurip adalah kepentingan negara.

Proyek Banyuurip menawarkan impian terciptanya ribuan peluang tenaga kerja dan usaha. Sederhananya akan ada efek ganda (multiplier effect). Mega proyek Banyuurip pun bak kue yang sedang dikerumuni semut. Tidak sedikit yang ingin berebut.

Baca Juga :   Prokem Rengelan

Di sisi lain masyarakat menaruh harapan terciptanya kemakmuran. Bagi mereka, keterlibatan ikut dalam proyek adalah konsekuensi logis yang harus dilaksanakan para kontraktor. Melibatkan masyarakat lokal semacam pra syarat yang harus dipenuhi. Selain merasa sebagai tuan rumah, melibatkan masyarakat lokal dinilai dapat meminimalir gejolak sosial. Terlebih payung hukum juga telah disiapkan Pemkab Bojonegoro melalui Perda Nomor 23 Tahun 2011 tentang Konten Lokal.

Hari demi hari terlewati. Tiga tahun berlalu. Beragam dinamika mengiringi perjalanan proyek EPC Banyuurip Blok Cepu. Mulai aksi unjuk rasa, tarik ulur perizinan, hingga geliat perubahan sosial ekonomi warga sekitar. Bahkan, proyek yang seharusnya telah rampung seperti terlupakan jika mengalami kemoloran.

Namun belakangan rasa gelisah menghinggapi masyarakat dan pekerja dan pengusaha lokal setempat. Pelan tapi pasti bangunan konstruksi pengerjaan EPC telah berdiri. Menyekat diantara areal perkampungan warga dengan objek vital negara. Pun demikian, para kontraktor lokal yang turut terlibat pada proyek, kini tersadar jika substansi pekerjaan proyek bersifat sementara.

Baca Juga :   Sisi Lain "Pekerja Rumah Tangga"

Kue yang dulu banyak diperebutkan sepertinya segera habis. Alih – alih mencari sisa, potongan kue yang selama ini mereka perebutkan belum sepenuhnya dinikmati. Kontraktor lokal telah terkooptasi oleh korporasi murni. Memang demikian realitas di lapangan.

Tinggal menghitung bulan proyek negara ini bakal rampung. Nasib ribuan tenaga kerja mengantung di tengah turunnya aktivitas geliat proyek lantung. Kini, pilihannya mencari kue lain atau mengais sisanya? 

Penulis adalah Wartawan Suara Banyuurip

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *