SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
BLORA – Masyarakat di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengeluhkan harga elpiji ukuran 3 kilo gram (Kg) di pasaran yang melebihi harga eceran tertinggi (HET). Padahal pada Pebruari kemarin Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat telah menetapkan HET Elpiji melon senilai Rp 16.000. Â Namun sebulan terakhir, harga Elpiji 3 Kg di Kecamatan Todonan mencapai Rp19.000 sampai Rp20.000.Â
Menurut Lukito, warga Desa Ketileng, KecamatanTodanan, harga Elpiji 3 Kg di wilayahnya mencapai Rp. 19.000 sampi Rp. 20.000 pertabung. “Masak harga sampai segitu, padahal bulan kemarin HET juga sudah ditetapkan,†ujar warga warga RT. 04/03 Desa Ketileng desa Ketileng ini.
Dengan tingginya harag Elpiji 3 Kg tersebut dirasa memberatkan warga. “Apalagi mereka yang memiliki usaha kecil menengah,†katanya. Dirinya menambahkan, beberapa kali pihaknya menemui segel Elpiji dalam keadaan rusak.Â
Hal yang sama juga dikeluhkan Rusmini (43), salah seorang pemilik warung makan. Dengan tingginya harga Elpiji, Rusmini merasa keberatan. Namun demikian, pihaknya tidak bias berbuat banyak lantan Elpiji sudah menjadi kebutuhan utama.Â
Dirinya mengaku, dalam waktu seminggu Rusmini menghabiskan 2 tabung gas Elpiji. “Saya hanya menerima kiriman dari pengecer yang datang seminggu dua kali dengan menggunakan kendaraan roda tiga. Kalau, harga segitu tinggi tentu ini memberatkan saya juga,†jelasnya.Â
Sementara itu, Â salah seorang pemilik pangkalan Elpiji tiga kilogram di wilayah Kecamatan Todanan, Â Yulianto(45), menjelaskan, bahwa harga dari dari pertamina untuk wilayah Kabupaten Blora telah dipatok maksimal Rp. 16.000 pertabung.Â
Dengan harga tersebut, baik agen, pangkalan, maupun pengecer telah mendapatkan keuntungan. “Harga dari pangkalan Rp. 14.000. Kami sudah mendapatkan untung Rp. 300 per tabung. Dari pengecer ke penjual umumnya Rp. 15.000,†kata dia.  Yulianto menambahkan, dari harga tersebut, pengecer sudah untung sebesar Rp. 800 per tabung. (ams)