SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Sebanyak kurang lebih 200 orang sopir dan kernet dari transportir lokal yang menjadi rekanan kilang minyak mini PT Triwahana Universal (TWU) di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, melakukan protes meminta kejelasan nasib mereka, Kamis (2/4/2015) sore.
Transportir lokal tersebut antara lain dari PT Arta Surya, PT Sima, dan PT BMT. Mereka protes kepada TWU karena secara tiba-tiba tidak mendapatkan pengangkutan minyak karena diambil alih oleh PT Patra Niaga.Â
Salah satu perwakilan sopir dari PT Arta Surya, Suharsono, mengatakan, aksi tersebut bermula dari pemberitahuan secara tiba-tiba dan sepihak oleh PT TWU jika pengangkutan minyak diambil alih oleh PT Patra Niaga tanpa ada koordinasi sebulan sebelumnya.
“Kalau memang sudah tidak ada pengangkutan ya tolong diberitahukan jauh hari sebelumnya, agar kami dari PT-PT lokal bisa mencari jalan keluar supaya tidak menganggur,” ujarnya kepada suarabanyuurip.com.
Akibat pengambil alihan yang dinilai secara mendadak tanpa koordinasi ini membuat nasib ratusan sopir dan kernet angkutan minyak menjadi terkatung-katung. Apalagi mediasi yang dilakukan pagi tadi dengan manajemen PT TWU tidak dihadiri oleh PT Patra Niaga.
“Masa semua angkutan diambil PT Patra Niaga, jangan begitu. Ingat, ada banyak tenaga kerja yang terancam nganggur padahal mereka punya keluarga,” sesal Suharsono.
Dia mengungkapkan, dari tiga transportir lokal tersebut memiliki 88 armada. Rinciannya, PT Arta Surya sebanyak 63 armada, PT Sima 20 armada, dan PT BMT sebanyak 5 armada.
“Kami akan menghadang angkutan dari PT Patra Niaga sampai ada koordinasi yang jelas,” ancam Suharsono diamini rekannya yang lain.
Sementara itu, Humas PT TWU, Wendrayadi, mengatakan, pihaknya memahami kesulitan yang timbul dari perusahaan lokal. Namun, sekarang ini tengah melakukan proses penyelesaian untuk mencari jalan keluar terbaik.
“Bukan secara tiba-tiba kami mengalihkan angkutan kepada PT Patra Niaga, tapi memang PT ini adalah anak perusahaan dari Pertamina,” ujarnya.
Wendra, sapaan akrabnya menyampaikan, untuk transportir lokal memang pada bulan ini belum ada order sehingga dihentikan sementara. Namun begitu tidak berarti, tiga PT lokal beserta ratusan sopir dan kernetnya dihentikan dengan pemutusan kontrak.
“Tidak ada pemutusan kontrak, ini sifatnya hanya sementara dan mereka bisa mendapatkan pekerjaan lagi,” imbuhnya.(rien)