SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Hiruk pikuk proyek minyak Banyuurip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sepertinya tak melunturkan budaya masyarakat setempat. Terbukti, sedekah bumi (manganan) yang menjadi warisan budaya leluhur masih diperingati warga pribumi.
Seperti Sedakah Bumi di Makam Mbah Lurah di Dusun Sumurpandan, Desa Gayam, Jumat (3/4/2015). Dalam perhelatan itu juga digelar Wayang Krucil dengan lakon Umar-Amir.
Dari pantauan menyebut, warga Gayam berduyun-duyun mendatangi Makam Mbah Lurah untuk mengikuti sedekah bumi yang dilaksanakan setiap tahun tepatnya pada Jum’at Pahing. Tampak juga perangkat dan Kepala Desa Gayam berkumpul di bangunan berukuran sekira 6×12 meter di dalam makam.
Kepala Desa (Kades) Gayam, Winto, mengatakan, nyadranan atau sedekah bumi ini sudah dilakukan warga secara turun-temurun. Namun baik warga maupun dirinya tak mengetahui secara pasti siapa Mbah Lurah yang dimakamkan di tempat tersebut.
“Nama aslinya mbah lurah itu siapa semua tidak tahu. Tapi sejak dulu turun temurun disebut dengan mbah lurah saja,” kata Winto kepada suarabanyuurip.com di sela-sela prosesi sedekah bumi.
Dijelaskan, meski saat ini tengah berlangsung kegiatan industri migas Blok Cepu, namun manganan tidak bisa ditinggalkan oleh warga. Bahkan budaya jawa peninggalan nenek moyang ini terus dilestarikan warga agar tak punah ditelan perkembangan zaman. Lain itu, juga sebagai bentuk puji syukur kepada Allah SWT karena di tahun ini hasil panen yang didapat petani lebih baik di bandingkan tahun silam.
“Sudah menjadi tradisi atau sugesti warga. Sehingga tidak bisa meninggalkannya, dan setiap tahun tepat di hari jumat pahing warga melakukan prosesi ini,” tegas Winto.
Selain manganan mbah Lurah, di hari yang sama juga dilakukan sedekah bumi di dua sendang di Dusun Gayam yaitu Sendang Gedhe dan Sendang Tangar.
“Ceritanya jaman dulu pernah kelupaan persyaratannya ada yang kurang ada wadal yang melanda Desa Gayam, Mas. Seperti pageblok yang menimpa tanaman tidak bisa panen karena diserang hama dan lain sebagainya,” imbuh Kepala Dusun Gayam, Suwarji. (sam)