SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Tanada-tanda tambang kumbung tradisional di Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, akan longsor sebenarnya sudah diketahui penambang. Namun penambang tetap nekat melakukan penambangan karena alasan ekonomi.
Menurut pengakuan warga, tambang yang longsor dan menewesakan seorang penambang pada Kamis (9/4/2015) siang kemarin, itu diketahui warga setempat sudah retak sejak dua tahun terakhir. Retaknya lahan tambang ini dikarenakan di bawah tanah mereka berpijak merupakan goa-goa buatan bekas penambangan.
“Sudah retak sejak dua tahun terakhir,†kata Tarsimin (50), salah satu warga yang ada di sekitar lokasi longsor.
Tetapi penambang masih nekat melakukan aktivitas di sana karena faktor ekonomi. Sebab tidak ada pekerjaan lain selain bertani di lahan tadah hujan dan menambang kumbung secara tradisional di lahan yang disebutkan masih milik Perhutani KPH Tuban.
“Banyak yang menambang kalau musim kemarau,†kata Tarmin.
Beruntung ketika tambang ini longsor, warga yang melakukan penambangan tergolong sedikit karena masih musim penghujan. Selain itu warga yang biasa bertani di atas lahan tambang ini usai melakukan aktivitas tanam kacang.
“Di atas lahan yang longsor ini tanah tadah hujan, kalau misalkan waktu panen jagung kemarin saya tidak bisa membayangkan,†katanya.
Lokasi tambang yang berupa gorongan goa-goa ini berada di bawah lahan pesanggem dengan luas lebih dari dua hektar. Lahan ini sudah dimanfaatkan cukup lama oleh banyak penambang. Tidak hanya berasal dari Tuwiri Wetan, tetapi juga dari sejumlah desa yang berada di Kecamatan Merakurak, Kecamatan Kerek, dan Kecamatan Montong.(edp)