SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Tidak mudah untuk bisa menjadi peternak lele yang sukses dan mampu meraup pundi-pundi rupiah. Butuh ketelatenan dan kesabaran, meski berkali-kali menemui kegagalan.
Hal itu dialami oleh salah satu pemuda Dusun Plosolanang, Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, M Ali Safi’i. Berawal mengajukan program kepada operator migas Lapangan Sukowati, Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOBP-PEJ), dia mulai melakukan budidaya lele.
“Setelah mengajukan proposal, pada Januari 2015 disetujui,” ujarnya, Minggu (19/04/2015).
Pertama kali, JOB P-PEJ memberikan bantuan bibit lele sebanyak 20.000 ekor. Puluhan ribu bibit itu ditabur di tiga kolam.
Pada bulan-bulan pertama, Ali mengalami kesulitan dalam mengelola budi daya lele karena pengalaman yang dimiliki masih sangat kurang. Sehingga, dengan inisiatif sendiri, akhirnya  dia mengikuti beberapa kali pelatihan dan mulai mengembangkannya.
Seiring berjalannya waktu, budidaya lele yang dilakukan Ali berjalan lancar setelah menguasai permasalahan dalam pengelolaannya. Dari tiga kolam itu sekarang sudah berkembang menjadi 11 kolam. Setiap kolam diisi sebanyak 1.500 sampai 2.000 ekor.
“Sampai sekarang jika ada yang minat untuk budi daya saya bisa memfasilitasi,” lanjutnya.
Bibit lele yang dikelolanya jenis Sangkuriang dan piton. “Untuk penjualannya juga tidak sulit, karena setiap panen sudah ada yang membeli,” terang pemuda berusia 24 tahun itu.
Budidaya lele yang dilakukan Ali ini dikelola bersaama sepupunya, Mashuri. Dari usaha itu mereka dapat mengembangkan ekonomi kreatif masyarakat sekitar migas Blok Sukowati. Mashuri dan Safi’i sekarang sudah mengembangkan budi daya lele di desa lain seperti Desa Mlaten yang masih masuk wilayah Blok Sukowati.
Namun yang menjadi kendala saat ini adalah masih minimnya pangan alternatif yang lebih ekonomis untuk budi daya lele. Sementara ini, Ali memberikan makanan pelet.
“Sekarang makannya yang sulit, kalau ada masih mahal, setiap kwintalnya Rp800 ribu,” tambah Mashuri.
Selama 2 bulan sekali, Safi’i dan Mashuri melakukan panen raya.Hasil panen kali ini cukup berhasil. Dari sembilan kolam yang dipanen, dia mampu menjual sebanyak 3,5 kwintal lele. Harga setiap kilogramnya senilai Rp14.000.
Kolam lele itu berada di sebelah rumah orang tuanya yang berada di RT 18/ RW 2 Dusun Plosolanang, Desa Campurejo. Di atas lahan seluas 8×4 meter dia membangun kolam yang menggunakan media terpal.
Public and Goverment JOB P-PEJ, Trisunu mengatakan, setelah berjalannya budi daya lele ini, program CSR yang nantinya akan diberikan dalam bentuk pelatihan dan kebutuhan alat untuk mengelola pangan lele. “Setelah ini kita tinggal memberi fasilitas pelatihan dan alat pembuat pakan lele,” terangnya.
Trisunu mengaku sangat mendukung dengan kreatifitas pemuda di sekitar wilayah operasinya. Selain untuk mensejahterakan ekonomi kerakyatan, program tersebut juga sesuai dengan program pemerintah Kabupaten Bojonegoro sebagai Lumbung Pangan dan Energi Negeri.Â
Hampir seluruh pemuda di Desa Campurejo kini memiliki usaha budi daya ikan lele. Program ini bertujuan untuk mengembangkan ekonomi pemuda khususnya disekitar lapangan Blok Cepu. “CSR ini diberikan langsung kepada pelaksana program,” pungkas Trisunu.(rien)