SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Hingga saat ini PT Wifgasindo, mengaku belum menemukan oknum karyawannya yang diduga ikut bermain dalam perekrutan 50 calon tenaga kerja (naker) proyek minyak Banyuurip, Blok Cepu, yang bersentra di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Subkontraktor PT Tripatra – Samsung, pelaksana proyek engineering procurement and construction (EPC)-1 Banyuurip, itu masih mengumpulkan bukti-bukti untuk mengungkap kasus tersebut.
Dugaan adanya mafia naker proyek Banyuurip itu terkuak ketika seorang warga Bonorejo, Pujianto menanyakan nasib 40 naker yang sudah mengikuti tes kesehatan (medical chek up/MCU) yang belum bekerja sampai sekarang. Pertanyaan itu dilontarkan Pujianto saat pertemuan dengan Muspika Gayam, dan kontraktor EPC dan operator migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), di ruang kerja camat beberapa waktu lalu. Â
Project Manager, PT Wifgasindo, Wahyudi Susanto, mengaku hingga saat ini belum menemukan oknum karyawannya yang diduga ikut bermain dalam perekrutan 50 orang calon naker Banyuurip. Namun sesuai data yang dia dapat, dari 50 orang itu hanya empat orang berasal dari wilayah Kecamatan Gayam.Â
“Belum ketemu, Mas,” kata Wahyudi Susanto kepada suarabanyuurip.com melalui pesan pendek, Selasa (21/4/2015).
Meski demikian, kata Wahyudi, upaya penyelidikan untuk mengumpulkan data sebagai bahan bukti keterlibatan oknum karyawannya Wifgasindo tersebut terus dilakukan. Salah satunya adalah melakukan koordinasi inten dengan pihak PT Tripatra – Samsung.
“Kami masih koordinasi dengan sosek Tripatra pak Budi Karyawan,” tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, tenaga kerja yang dibutuhkan PT Wifgasindo hanya sekira 10 orang yang akan direkrut sebagai tenaga teknisi dan Helper. Namun hingga akhir tes kesehatan ada 50 calon yang mengikuti MCU tanpa menyertakan lamaran kerja terlebih dulu.(sam)