SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro- Pemerintah Desa Mojodelik, KecamatanGayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menilai sosialisisasi flaring (pembakaran gas) di well pad B Banyuurip, Blok Cepu, yang dilaksanakan hari ini, Jum’at (8/5/2015), terlambat.  Alasannya flaring tersebut telah di operasikan sekira sebulan lalu.
Menurut Kepala Desa Mojodelik, Yuntik Rahayu, dengan berdirinya flaring di well pad B Banyuurip di Desa Mojodelik, warga sempat khawatir akan dampak yang ditimbulkan.
“Sehingga bingung juga mau menyampaikan ke masyarakat,†kata Yuntik kepada suarabanyuurip.com.
Dia mengungkapkan, pemahaman flaring akan lebih tepat dan mampu diterima masyarakat jika sejak awal disampaikan operator migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Hal itu sudah pernah dia sampaikan beberapa bulan lalu.
“Kalau kita kurang memiliki kapasitas. Kan kita tidak paham masalah migas,†tutur Yuntik.
Dalam sosialisisasi diungkapkan bahwa jumlah kandungan dalam flaring sebesar 23 MMSCFD. Jumlah tersebut merupakan batas yang ditentukan sesuai yang tertera dalam dokumen Amdal.
“Sekarang masih dibawah itu,” ucapnya.
Meski demikian, pihaknya mengaku apresiasi berkaitan dengan pemberian kompensasi yang diberikan. Sebab, keberadaan flaring memang memantik rasa kekhawatiran akan munculnya dampak yang ditimbulkan. Khususnya terhadap hasil pertanian.
Perwakilan EMCL, Ichwan Arifin, mengatakan, adanya flaring sudah sesuai kajian dampak lingkungan yang dilaksanakan. Sehingga tidak sampai mengganggu. “Flaring ini hanya bersifat sementara dan hal yang biasa dilakukan dalam kegiatan eksploitasi migas,†ujar Ichwan.
Sekretaris Desa Mojodelik, Parlin Wibowo, mengatakan, sebenarnya sosialisisasi masih belum ada titik temu. Warga sempat menolak diberikan kompensasi beras dan meminta uang tunai. Namun dengan pemahanan yang diberikan akhirnya bisa menerima.(roz)