Warga Ngampel Tolak Pembakaran Gas Sukowati

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Kebocoran gas beracun dari SKW 21 tapak sumur (Pad) A Sukowati, Blok Tuban, beberapa waktu lalu, tampaknya, masih membuat warga Desa Ngampel Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, trauma. Mereka menolak pembakaran gas di tapak sumur B yang di operatori Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ), Sabtu (9/5/2015).

Pembakaran gas di Pad B Desa Ngampel itu untuk mengetahui kandungan dan meningkatkan produksi minyak dari Lapangan Sukowati.

Tokoh masyarakat Desa Ngampel, Pamuji, mengatakan, penolakan ini dikarenakan adanya kejadian kebocoran gas di tapak sumur Adi Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, yang mengakibatkan warga Ngampel panik karena mencium bau tak sedap seperti telur busuk. Akibat bau busuk itu warga terpaksa mengungsi karena merasa pusing, mual, muntah-muntah dan bahkan ada yang masuk rumah sakit.

“Kami tak mau kejadian itu terulang lagi. Apalagi waktu itu JOB P-PEJ hanya menananggung pengobatan yang sakit,” ujarnya.

Menurut Pamuji, permintaan kompensasi kepada warga yang terdampak bau tak sedap telah disampakan kepada pihak JOB P-PEJ, namun belum mendapatkan tanggapan. Selain itu, warga juga meminta supaya tenaga kerja lokal dilibatkan dalam pekerjaan di lokasi Pad A dan Pad B.

Baca Juga :   Pertamina EP Respon Pengaduan Warga TBR

“Kami akan menolak pembakaran di Pad A dan B sampai ada tindak lanjut bagi warga akibat kebocoran kemarin. Juga masalah naker yang perlu dilibatkan,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Field Manager JOB P-PEJ, Junizar, mengatakan, sedang melihat kembali potensi kerugian akibat insiden di SKW 21 Pad A beberapa lalu.

“Dalam waktu dekat akan ditindaklanjuti,” sambungnya.

Junizar melanjutkan, saat ini  proses pembakaran dilakukan untuk uji kandungan. Proses ini tidak bisa lepas dari menentukan dan mengoptimalkan produksi sumur setelah dibor atau reparasi.

Soal naker, lanjut Junizar, dengan kondisi tingkat produksi sekarang ini dan turunnya harga minyak dunia dirasakan sangat drastis. Sehingga tidak memungkinkan perusahaan menambah naker.

“Kami memang sementara tidak recruit karyawan baru,” imbuhnya.

Agar aktivitas tetap berjalan, cara yang dilakukan adalah dengan memutasi karyawan dari bagian lain ke bagian yang lebih membutuhkan. Mutasi atau rotasi ini bisa dari JOB P-PEJ sendiri maupun dari Pertamina dan PetroChina sebagai induk JOB PPEJ.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Baca Juga :   Butuh Sosialisasi Lanjutan Sumur Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *