SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro- Pemerintah Desa (Pemdes) Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berharap agar pemberian beras dari adanya flaring (gas suar bakar) Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, diperoleh dari hasil produksi petani dari 12 desa se wilayah setempat.
“Harapannya seperti itu,” kata Kepala Desa Gayam, Winto kepada suarabanyuurip.com usai sosialisasi Kamis (13/5/2015) kemarin.
Menurut dia, jika beras yang diberikan kepada warga diperoleh dari produksi petani se kecamatan Gayam, maka sama halnya merupakan bentuk optimalisasi potensi lokal. “Untuk mengangkat potensi lokal yang ada disini,” tuturnya.
Winto mengungkapkan, pemberian kompensasi beras sebelumnya tidak pernah ada. Namun pemerintah desa memperjuangkan agar ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL) dapat mengakomodir usulan tersebut. Khususnya dari pemerintah Desa Gayam dan Mojodelik. Sebab, keduanya merupakan desa terdekat dengan flaring yang ada di tapak sumur C dan B Lapangan Banyuurip.
“Sebelumnya tidak ada, adanya kompensasi ini butuh perjuangan,” imbuh Kades.
Mengenai berapa jatah jumlah kompensasi yang didapat, Winto mengaku belum bisa memastikan. Menurutnya, saat ini masih dilakukan up date terbaru jumlah kepala keluarga (KK) di Desa Gayam. Namun data sementara, kata dia, jumlah KK yang terdata sekira 2020 KK.
Nantinya setiap KK akan menerima antara 5 – 11 kilogram (kg) per bulan tergantung jarak rumah warga dengan titik lokasi flaring. “Kalau di Gayam yang terdekat ada di dua dusun. Kaliglonggong dan Templokorejo,” pungkas Winto.
Kompensasi beras itu akan diberikan ketika flaring 70 MMSCFD Lapangan Banyuurip dimulai. Saat ini operator masih menunggu ijin flaring 70 MMSCFD dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Diperkirakan ijin untuk menambah produksi minyak itu akan turun pada Juni 2015 mendatang.(roz)