SDN 1 Katur Sekat Satu Ruang untuk Dua Kelas

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Tidak semua sarana dan prasarana pendidikan di ring 1 Lapangan minyak dan gas bumi (Migas) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, memadai.  Terbukti, di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Katur 1, Kecamatan Gayam, yang dekat dengan lokasi pemboran migas Blok Cepu, kondisinya masih memprihatinkan.

Bangunan yang sudah digunakan sejak tahun 1921 ini masih butuh banyak rehabilitasi. Mulai dari pagar, halaman, ruang kelas, ruang guru, dan prasarana lain penunjang kegiatan belajar seperti meja, bangku, papan tulis dan peralatan lainnya. 

Yang lebih memprihatinkan lagi, ada satu ruangan yang disekat dengan menggunakan papan agar dapat ditempati dua kelas untuk kegiatan belajar mengajar. Yakni untuk kelas satu dan dua digabung menjadi satu ruangan. Hal itu terpaksa dilakukan karena sekolah tersebut kekurangan ruang kelas.

“Ya mau bagaimana lagi, dengan keterbatasan kegiatan belajar mengajar harus tetap jalan,” kata Kepala Sekolah SDN Katur 1, Suprapto kepada suarabanyuurip.com, Senin (18/5/2015).

Dia mengatakan, selama ini pihaknya tidak pernah mengajukan bantuan kepada operator migas Lapangan Banyuurip, Blok cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Meskipun, sekolah yang dipimpinnya berada di Ring 1.

Baca Juga :   Kupas Peran e-WOM, FISIP Unigoro Hadirkan Dosen Asing

“Saya mengajukan ke Dinas Pendidikan untuk perbaikan sekolah,” ujarnya kepada suarabanyuurip, Senin (18/5/2015).

Suprapto mengaku, pada tahun 2012 lalu sudah mendapatkan bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk dua ruang kelas. “Alhamdulillah tahun ini dapat bantuan lagi dari DBH Migas Pendidikan sebesar Rp 960 Juta,” ucap Suprapto.

Rencananya bantuan tersebut hanya untuk pembangunan lima ruang kelas. Sedangkan pengajuan dari sekolah sebanyak enam kelas. 

“Sangat kecewa Mbak, kami butuh ruang untuk guru,” tandasnya.

Suprapto mengatakan, selama ini tidak ingin meminta bantuan kepada pihak manapun meski kondisi sekolah masih jauh dikatakan layak. 

“Pagar saja sudah mau roboh, selain itu halaman sekolah harus di paving supaya siswa-siswi bisa memanfaatkannya untuk kegiatan olah raga,” ujar dia, mengungkapkan.

Suprapto mengaku, EMCL pernah memberikan bantuan kepada 93 anak didiknya. Di antaranya program makanan bergizi, pelatihan keselamatan kerja, belajar minyak untuk anak dan pelatihan guru.

“Sebenarnya bagi kami kurang maksimal, hanya ingin partisipasi lebih besar lagi,” lanjutnya.

Dia berharap, baik pemerintah daerah maupun operator migas mendukung penuh pendidikan di SDN Katur 1. Karena, keberhasilan pendidikan bagi pelajar adalah dari  sarana dan prasarana.(rien)

Baca Juga :   Mahasiswa KKNTK Unigoro Kelompok 17 Survei Awal di Desa Napis

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *