SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Banyak cara dilakukan wanita di sekitar lokasi proyek migas untuk membangun masjid. Salah satunya di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Mereka menjadi flagman (manusia bendera) yang membantu mengatur arus lalu lintas sambil menyodorkan kotak amal. Cara ini cukup ampuh untuk memperoleh sumbangan dari pengguna jalan yang melintas di jalan poros Kalitidu – Gayam.
Sebab jalan tersebut merupakan akses utama pengangkutan minyak mentah dari kilang mini milik PT Tri Wahana Universal (TWU). Selain itu jalan tersebut juga banyak dilalui kendaraan proyek minyak Banyuurip, Blok Cepu.
Bibit (45), warga Dusun Clangap, Desa Sumengko, mengatakan, jumlah sumbang yang diperoleh setiap harinya tidak pasti. Namun dari jumlah sumbang yang diperoleh itu dipotong lima persen sebagai ganti jerih payahnya sebagai flagman.
“Kadang Rp 150.000, Rp 200.000, paling banyak Rp 300.000,† kata Bibit yang diamini Parti rekannya yang membawa kotak amal.
“Gak mesti Mbak, dari lima persen itu biasanya kami dapat Rp 7500, kadang Rp 15.000, kadang tidak dapat sama sekali,” timpal Parti (50). Â
Mereka mengaku, sesuai informasi yang diperoleh dari pihak yayasan, pembangunan Masjid di Dusun Clangap itu sudah mendapat bantuan dari PT TWU. Namun karena bantuan yang diterima masih kurang untuk pembangunan akhirnya mencari sumbangan dengan cara menjadi flagman.
“Kalau kita nurut saja, diminta bantu seperti ini ya Alhamdulillah sekali. Karena, tidak ada pekerjaan lain yang layak,” ujar buruh tani ini.(rien)