SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Petani di Dusun Ledok, Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terancam gagal panen akibat mulai mengeringnya tanaman padi milik mereka.
Ali Supaidin, salah satu petani setempat menyampaikan, sawah seluas 1800 meter persegi miliknya memasuki  masa tanam kedua. Namun kali ini tanaman padi yang baru berumur dua bulan mulai mengering.Â
“Bahkan, terdapat hama ulat di bagian bawah tanaman,” ujarnya kepada Suarabanyuurip, Kamis (4/6/2015) kemarin.
Dia mengaku, belum mengetahu secara pasti penyebab mengeringnya tanamannya. Apakah karena cuaca yang panas di musim kemarau ataukah adanya peningkatan suhu akibat adanya gas suar bakar (flaring) di tapak sumur (Well Pad) B Banyuurip, Blok Cepu.
“Cuacanya memang panas, dan biasanya memasuki bulan enam belum waktunya kemarau,” ujar Ali dengan logat Jawa.
Ali mengungkapkan, dibandingkan pada tahun 2014 lalu, pada awal Mei masih terdapat hujan. Namun, sekarang sudah tidak ada hujan sama sekali. Sementara di Desa Mojodelik selalu kesulitan air jika memasuki musim kemarau.Â
“Ada hujan tapi ya jarang sekali,” imbuhnya.
Dikonfirmasi terpisah, Anggota Petugas Penyuluh Lapangan (PPL)Dinas Pertanian Bojonegoro, Mohamad Aris Abdi, mengatakan, ada sekira 46 hektar lahan pertanian di Desa Mojodelik terancam gagal panen. Selain faktor kekurangan air juga serangan hama yang disebabkan oleh jamur.
Dia menjelaskan, sawah Mojodelik adalah sawah tadah hujan. Kondisi itu diperparah dengan tidak turunya sejak bulan Mei ini. “Seharusnya, tanam kedua petani mengutamakan Palawija yang tidak membutuhkan banyak air,” ucap Aris.
Dia menambahkan, secara tekhnis banyak faktor yang menyebabkan tanaman padi di wilayah Mojodelik kering. “Tapi kalau ada yang menyebut itu dikarenakan flaring, harus dibuktikan dahulu dengan mendatangkan ahli lingkungan,” pungkasnya.(rien)