Warga Banyuurip Budidaya Sayuran di Tanah Pekarangan

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Naiknya harga sayur-sayuran dan kebutuhan dapur menjelang bulan Puasa Ramadan kali ini, tak berpengaruh bagi warga sekitar Lapangan Minyak Banyuurip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Pasalnya, kebutuhan itu dapat mereka penuhi dari hasil budidaya sayur-sayuran di tanah pekarangannya.

“Seperti lombok, tomat, terong, dan sayur-sayuran lainnya sekarang tidak beli lagi. Tinggal petik sendiri di pekarangan rumah,” kata Sufyan, salah satu warga  Desa Brabowan, kepada suarabanyuurip.com, Senin (8/6/2015).

Dia mengaku, dari hasil budidaya ini dirinya bisa menghemat pengeluaran setiap harinya. Sebab kebutuhan dapur sudah tercukupi dari hasil budidaya.

“Semisal, sehari biasanya mengeluarkan biaya Rp100.000, sekarang tinggal Rp50.000,” kata dia member gambaran.

Awalnya, Sufyan mengaku, enggan ikut menanam sayuran-sayuran di pekarang rumah. Namun setelah mengetahui manfaatnya akirnya tertarik untuk budidaya.

“Ternyata manfaatnya banyak. Apalagi sekarang ini kebutuhan pokok mulai naik harganya,” ujar dia, mengungkapkan.

Di wilayah Gayam sendiri, budidaya sayur-sayuran dengan memanfaatkan tanah pekarangan telah dilakukan warga di sejumlah desa sejak 2014 lalu. Yakni di Desa Gayam, Brabowan, Mojodelik dan Bonorejo. 

Baca Juga :   Penemuan Mayat Korban Pembunuhan Gegerkan Warga

Budidaya itu merupakan program Kampung Hijau dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Tropis, salah satu mitra ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), operator migas Blok Cepu.

“Dengan melihat keberhasilan ini, rencananya akan kita kembangkan ke desa lainnya seperti Sudu, Beged, Begadon, Ngraho, Manukan, Cengungklung, Katur, dan desa Ringintunggal,” sambung Ketua LSM Tropis Indonesia, Musadat.

Ada beberapa jenis tanaman yang dikembangkan warga dengan pendampingan LSM Tropis. Di antaranya cabe, tomat, terong, labu air, brokoli, Kelapa dan Jambu merah.

Sayur-sayuran tersebut mudah di tanam dan tak membutuhkan waktu lama karena tiga bulan sudah bias dipanen. Apalagi dengan latar belakang masyarakat sekitar proyek Banyuurip yang sebagian besar petani, sehingga dengan mudah melakukan budidaya tersebut.

“Budidaya ini dapat memberi nilai ekonomi warga. Karena selain dapat memanfaatkan lahan pekarang, mereka dapat mencukupi kebutuhan dapur. Sehingga uang untuk kebutuhan dapur bisa ditabung atau dipergunakan kebutuhan lainnya,” pungkas Musadat.(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *