Berharap Operator Fokuskan Program Pertanian

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Pemerintah Desa (Pemdes) Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, meminta operator migas  Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) memfokuskan Program Penunjang Operasi (PPO) di sektor pertanian.

Kepala Desa Gayam, Winto, mengatakan, meskipun sudah ada PPO di sektor pertanian selama ini, namun dinilai kurang fokus dan kurang maksimal. 

“Harusnya lebih memfokuskan adanya rehabilitasi pertanian. Karena lahan di Desa Gayam sebagian besar tidak produktif,” sarannya kepada suarabanyuurip.com, Kamis (11/6/2015).

Dia menyampaikan, setelah memberikan pelatihan kepada kelompok tani berupa sekolah lapang, seharusnya dilanjutkan dengan program perbaikan lahan pertanian yang semula tidak produktif menjadi lahan produktif.

“Bahkan kalau bisa, operator ini bersinergi dengan pemerintah kabupaten,” ucapnya.

Winto mengaku, dalam melakukan rehabilitasi pertanian ini, harus ada upaya untuk menempuh langkah-langkah secara nyata seperti meningkatkan jaringan irigasi. 

Sementara itu, Direktur Utama Yayasan Bina Swadaya, Jupriansah, menyampaikan, dalam kurun waktu kurang lebih 4 tahun, Bina Swadaya bekerjasama dengan EMCL telah memberikan program pendampingan di bidang ekonomi kepada 550 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di 20 Desa. 

Baca Juga :   Semen Indonesia Realisasikan Program Pemberdayaan di Sumberarum

Desa tersebut, lanjut dia, 14 Desa tersebar di Kabupaten Bojonegoro yakni 12 Desa di Kecamatan Gayam dan 2 Desa di kecamatan Kalitidu, serta 12 Desa tersebar di Kabupaten Tuban.

Jupriansah menyampaikan, dalam memberikan program pendampingan, Bina Swadaya melakukan upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat minimal 30 persen sebelum diberikannya program tersebut. Untuk pertanian misalnya, kata dia, sejak 2013 lalu telah mengidentifikasikan persoalan di tingkat petani terutama di wilayah operasi.

“Ada beberapa yang berhasil kami identifikasi seperti penurunan produksi gabah dan kebutuhan air,”ujar pria yang tinggal di Jalan gajah Mada Bojonegoro ini.

Dia melanjutkan, dari pemetaan masalah seperti penurunan produksi pertanian yang awalnya 6,2 ton tiap hektar menjadi 5,6 ton tiap hektarnya, Bina Swadaya telah memberikan pembelajaran sekaligus praktek lapangan kepada para petani. 

” Tetapi, kendalanya adalah sebagian dari petani belum tentu bisa menerapkan solusi di lapangan. Seperti penggunaan alat untuk membuat pupuk kompos sebagai upaya peningkatan kesuburan tanah,” pungkas dia saat dihubungi melalui telepon genggamnya (Telgam).(rien)

Baca Juga :   Gelar Lokakarya Membangun Kemandirian Ekonomi

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *