SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Kasus kebakaran di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, tergolong cukup tinggi. Dalam kurun waktu enam bulan terakhir ini, tercatat telah terjadi bencana kebakaran sebanyak 11 kali.
Untuk mengantisipasi dan meminimalisir bencana tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora kerap melakukan pelatihan kebencanaan dan memasang peringatan bencana di sejumlah titik rawan bencana.
Kepala BPBD Blora, Sri Rahayu mengatakan, bencana kebakaran menjadi peringkat tertinggi di Kabupaten Blora. Apalagi, lanjut dia, saat ini telah memasuki musim kemarau sehingga sedikit api sangat memicu terjadinya kebakaran.
“Di banding yang lain, kebakaran menjadi bencana yang sering terjadi,†tutur dia kepada suarabanyuurip.com, Senin (15/6/2015).
Sri Rahayu mengungkapkan, dalam minggu ini sudah lebih tiga kali kebakaran terjadi. Pada Jumat (11/6/2015) kemarin, telah terjadi kebakaran di dua tempat berbeda. Yakni kebakaran tiga rumah di Desa Temurejo, Kecamatan Blora, dan kebakaran sumur minyak di Desa Nglobo.
Sedangkan kasus kebaran yang baru terjadi, lanjut dia, di Desa Sembongin, Kecamatan Banjarejo, Senin dini hari pukul 02.15 WIB. Kebakaran itu disebakan korsleting listrik dan menghanguskan dua rumah. Api baru berhasil dipadamkan tepat pukul 04.00 WIB.
“Meski tidak ada korban jiwa, namun kerugian diperkirakan 250 juta rupiah,†jelas dia.
Menurut Sri Rahayu, kebakaran yang terjadi kebanyakan disebabkan oleh korsleting listrik. Namun di daerah pedesaan tidak menutup kemungkinan kebakaran disebabkan oleh kompor, obat nyamuk, dan bediang (perapian untuk hewan). Sebab, sedikit percik api di musim kemarau bisa memicu kebakaran besar.
“Kami menghimbau agar masyarakat lebih waspada. Sering cek instalasi listrik dan jangan mengabaikan percik api dari rokok maupun obat nyamuk,†pungkas dia.(ams)