SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Kalangan aktivis Lembaga Swadaya Masyrakat (LSM) di Blora, Jawa Tengah mendesak Pemerintah Kabupaten dan Pertamina memperbanyak jumlah agen LPG di wilayah setempat.
Desakan tersebut, dipicu seringnya terjadi lonjakan harga LPG disertai langkanya gas LPG 3 kilogram di pasaran. Kondisi tersebut diduga lantaran minimnya jumlah agen Penjualan LPG yang ada di wilayah setempat.
Saat ini di Blora hanya ada 6 agen penjualan di Kabupaten Blora, sehingga rentang pendistribusian LPG menjadi panjang. Selain juga memakan waktu cukup lama.
“Minimal satu desa satu agen,†ujar Kukuh Subiyanto, salah seorang aktivis LSM di Blora.
Untuk diketahui, distribusi gas LPGi dari Pertamina menuju konsumen melalui beberapa tingkatan. Diawali di tingkat agen, selanjutnya didistribusikan ke pangkalan untuk kemudian dijual ke konsumen.
Di tingkat pangkalan inilah, lanjut Kukuh, selama ini lazim dijumpai penjualan gas LPG melalui pengecer bahkan ditambah munculnya sub pengecer. Bertambahnya rentang distribusi tersebut kerap menjadikan harga elpiji melambung tinggi.
“Menurut kami kenaikan harga itu terjadi karena rentang distribusi yang panjang, belum lagi penjual menerapkan pula biaya distribusi,†tandas Kukuh.
Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Blora, Â Rudatiningsih, menjelaskan, jumlah agen elpiji di Blora hanya enam agen, dan membawahi pangkalan. Namun jumlah pangkalan di kecamatan juga ada yang minim.
Dia mengungkapkan, Pemkab baru mengajukan tambahan jumlah pangkalan di dua kecamatan. Yakni di Kecamatan Bogorejo, dan Kecamatan Kradenan. Â
“Kami minta ke Pertamina agar pangkalan LPG di dua kecamatan itu ditambah sehingga distribusi elpiji akan semakin lancar,†katanya. (ams)