SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Kepolisian Resort Bojonegoro, Jawa Timur, memastikan meninggalnya Rantam (63), warga RT02/RW02 Dusun Tegaron, Desa Gamongan, Kecamatan Tambakrejo, pada 30 Mei 2015 lalu, karena dibunuh. Berdasarkan hasil otopsi tim forensik dan Dokter Rumah Sakit Umum (RSU) Sosodoro Djati Koesoemo Bojonegoro, Selasa (16/6/2015) kemarin, ditemukan sejumlah luka di tubuh korban.
Kemarin, jenazah Rantam yang sudah disemayamkan di tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat selama sekira lima belas hari dibongkar pihak kepolisian. Pembongkaran ini atas permintaan keluarga korban yang mencurigai Rantma meninggal karena dibunuh.
Kapolres Bojonegoro, Ajun Komisaris Besar Polisi Hendri Fiuser, mengatakan, hasil otopsi telah menemukan luka hemamatom (memar) pada dada korban. Selain itu juga ditemukan  luka memar pada lutut sebelah kiri. Sedangkan untuk tulang tenggorokan masih utuh.
“Hasil otopsi dan pengamatan mayat ditemukan kepala menghitam, lutut kaki sebelah kiri ada bekas luka, kaki kiri bengkak, dan dada korban memar merata,” kata Hendri Fiuser kepada suarabanyuurip.com, Rabu (17/6/2015).
Hendri menegaskan, dari hasil otopsi yang didapatkan tersebut pihaknya menyimpulkan penyebab kematian Rantam karena adanya tanda kekerasan. “Artinya ada tanda-tanda kekerasan dan korban meninggal dunia dibunuh,” tegas Hendri.
Dia menambahkan, dari hasil otopsi tersebut pihaknya sekarang ini masih melakukan penyelidikan lebih lajut untuk mengungkap motif kasus ini.
“Tentunya, untuk mendapatkan jelas dugaan kasusnya. Dengan terus melakukan pengumpulan keterangan saksi-saksi,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, penggalian makam Rantam dimulai pukul 11.10 Wib dengan ukuran panjang 2 meter, lebar 1 meter kedalaman 90 centi meter. Pukul 11.27 WIB, jenazah petani yang tinggal di kampung tepian hutan itu diangkat. Kemudian dilakukan otopsi mulai pukul 11.30 WIB hingga pukul 11.56 WIB. Pada pukul 12.20 WIB, mayat dikembalikan ke liang kubur dan ditimbun tanah.(sam)