SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora-Kekeringan mulai mengancam sebagian wilayah di Kabupatem Blora, Jawa Tengah. Sedikitnya 167 desa dari 16 kecamatan telah mengajukan bantuan air bersih kepada pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat.
“Saat ini masih tahapan validasi data pengajuan. Kecamatan Ngawen paling banyak mengajukan, yaitu 29 desa,” kata Kepala Pelaksanan Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora, Sri Rahayu kepada suarabanyuurip.com.
Menurut dia, saat ini kekeringan mulai mengancam wilayah Blora yang ditandai dengan mulai mengeringnya sebagian sumur milik warga. Â Sri Rahayu menjelaskan, setelah dilakukan validasi data, pihaknya segera melakukan distribusi air.
“Nanti akan kita mulai dari titik awal, mendistribusikan 2 truk tagki air untuk masing-masing desa. Tapi khusus untuk Kecatan Jati kita langsung distribusikan 4 tangki. Karena wilayah Jati paling jauh,” kata dia.
Dia menambahkan, dalam penanggulangan bencana kekeringan tahun ini, BPBD Blora telah menyiapkan 750 tangki yang dianggarkan dalam APBD.
“Tidak berbeda dengan tahun kemarin yang juga 750 tangki,” ucap Sri Rahayu.
Namun demikian, pihaknya tetap menggandeng masyarakat serta perusahaan untuk turut serta dalam menanggulangi bencana kekeringan.
“Karena pada dasarnya bencana kekeringam bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Tapi juga masyarakat serta dunia usaha,” tandasnya.
Menurutnya, meskipun telah menggandeng masyarakat dan perusahaan, pemerintah tetap akan mengalokasikan anggaran jika memang terjadi krisis air bersih.
“Apalagi BMKG meramalkan akan terjadi bencana El Nino tahun ini. Yang tentunya akan memicu terjadinya krisis air,” pungkas Sri Rahayu. (ams)