SuaraBanyuurip.com -Â Samian Sasongko
Bojonegoro – Keberadaan proyek minyak Banyuurip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, telah banyak merubah kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Salah satunya budaya gotong-royong yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat pedesaan.
Dalam kurun beberapa tahun terakhir ini, budaya warisan nenek moyang itu terkesan mulai sirna. Di Desa Bonorejo, salah satu desa ring 1 Lapangan Banyuurip, misalnya. Sekarang ini tak lagi terlihat masyarakat bergotong-royong seperti kerja bakti desa, ‘sayan‘ (membantu) mendirikan rumah dan bercocok tanam maupun panen.
“Dulu tanpa diminta masyarakat degan sukarela pasti akan membantu,” kata Pujianto, warga setempat kepada suarabanyuurip.com, Minggu (28/6/2015).
Namun sekarang yang terjadi sangat berbeda. Kepedulian dan kesadaran warga untuk saling bantu membantu, bahu membahu mulai sirna.
“Sekarang semua dinilai dengan uang,” ucapnya.
Menurut dia, hal itu dikarenakan saat ini telah terjadi pergeseran kondisi sosial warga. Mereka yang semula mayoritas bekerja sebagai petani, buruh tani maupun peternak beralih menjadi pekerja proyek minyak Banyuurip.
Akibatnya, lanjut Pujianto, setiap kali ada warga mendirikan rumah selalu kesulitan untuk mencari tenaga. Bahkan jalan desa yang kondosinya ditumbuhi semak belukar terkesan dibiarkan, tak dibersihkan. Padahal kondisi itu mengganggu keindahan dan membahayakan pengguna jalan maupun anak-anak yang sedang bermain karena bisa jadi menjadi sarang ular.
“Saat ini warga banyak yang sibuk kerja di proyek. Masuk pagi pulangnya sore. Sehingga, jika ingin minta sumbangan tenaganya sangat sulit,” kata Pujianto, mengungkapkan.
Senada diungkapkan Mira, warga lainnya. Dia menilai, banyak perubahan yang mendasar di tengah-tengah masyarakat dengan adanya proyek minyak Banyuurip. Baik itu perubahan positif maupun negatif.
Perubahan positifnya, kata Mira, pembangunan infrastruktur desa sekitar meningkat di bandingkan sebelumnya. Sedangkan perubahan negatifnya, lanjut dia, gaya hidup maupun pola berpikir masyarakat cenderung konsumtif, dan bahkan budaya gotong-royong telah hilang.
“Dulu warga diajak gotong-royong kerja bakti mudah. Tapi, sekarang ini sangat sulit. Buktinya jalan desa menuju Dusun Puduk dipenuhi semak belukar juga dibiarkan saja, dan terkesan tidak ada perhatihan sama sekali. Baik dari Pemdes maupun warga sekitarnya,” sambung warga yang setiap hari berjualan makanan dan minuman (mamin) di dekat Kampung Tunnel.
“Semoga saja segera ada perhatihan baik dari pihak perusahaan maupun desa,” harap Mira. (sam)