SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terus bersolek seiring industrialisasi minyak dan gas bumi (Migas) di wilayahnya. Usai meletakkan batu fenomenal dari Kecamatan Gondang bernama Batu Semar beberapa waktu lalu, dalam waktu dekat Pemkab setempat akan menempatkan kayu tua bernilai sejarah.
Kayu tua yang sekarang berada di tempat penampungan kayu (TPK) tersebut, memiliki ukuran panjang sekitar 17 meter dengan diameter sekitar 45 centimeter.
Kabid Pengembangan dan Pelestarian Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemkab Bojonegoro, Suyanto, mengatakan, untuk proses pemindahan, saat ini pihaknya masih melakukan koordinasi dengan ahli kayu. Kayu tersebut akan dipercantik sebelum jadi pusat perhatian masyarakat.
“Tadi kita selesai memantau kembali perkembangan kayu tersebut dan secepatnya membuat laporan ke Bupati. Setelah itu baru kita pindah,” ujarnya, Kamis (2/7/2015).
Kayu tua yang diduga merupakan peninggalan dari Kerajaan Demak tersebut ditemukan sekitar tahun 1995 di Sungai Bengawan Solo, ikut Jalan Prajurit Abu, Kelurahan Kauman, Bojonegoro. Proses pengangkatan kayu itu sebelumnya memerlukan waktu dan tenaga yang cukup banyak.
Sebelumnya, satu glondong kayu jati itu menancap dan hanya kelihatan pucuknya saja. Setelah kayu itu selesai diangkat kemudian dibiarkan lama di TPK Bojonegoro. Meskipun sudah puluhan tahun terkena panas dan hujan namun kayu itu masih terlihat utuh. Kayu itu sebelumnya banyak yang akan membelinya.
“Kemungkinan mau dipakai untuk pembangunan masjid Demak. Namun dalam perjalanannya mungkin kayu tersebut jatuh,” terangnya.
Adanya temuan kayu tua di Sungai Bengawan Solo ini, memperkuat dugaan bahwa sungai terpanjang di pulau Jawa itu, dulu digunakan tranportasi dan perdagangan.
“Ini juga menguatkan jalur Bojonegoro termasuk jalur perdagangan,” pungkasnya. (rien)