SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Meski sudah ada namun bentuk perhatian yang diberikan kepada lembaga pendidikan sekitar Ladang Migas Banyuurip, Blok Cepu dirasa masih belum maksimal.
Hal itu diungkapkan Kepala Sekolah SMAI Gayam, Pandil, kepada suarabanyuurip.com melalui pesan pendek jumat (10/7/2015).
Dia mengaku, sejauh ini keberadaan migas Blok Cepu yang dioperatori oleh ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL) belum sesuai dengan harapan warga. Utamanya tentang dunia pendidikan, termasuk SMAI Gayam di Desa Gayam Kecamatan Gayam, Bojonegoro, Jawa-Timur.
“Sama sekali belum sesuai harapan warga, karena pada kenyataannya bantuan fisik yang diberikan baik dari pihak operator maupun Pemkab Bojonegoro belum sampai ke jenjang sekolah saya,” kata Pandil.
SMAI yang dia pimpin berada di ring satu proyek Banyuurip. Seharusnya perhatihan secara maksal dilakukan. Tetapi, padanya kenataanya masih belum ada.
“Seharusnya ada perhatihan kusus lah dibandingkan yang lain. Mass diberada di wilayah ring satu proyek Banyuurip malah seakan kalah dengan yang lain perhatiannya,” keluhnya.
Sejauh ini, ungkap Pandil belum pernah menerima bantuan dari pihak EMCL dalam setiap tahunnya. Namun, dia mengakui jika pernah mendapatkan bantuan dari operator Blok Cepu berupa pelatihan kualitas guru. Lain itu, juga pengelolaan menejemen sekolah, Kepemimpinan dan lain-lain.
“Ya ada tapi bukan tiap tahun. Sedangkan, untuk siswa setiap tahun tidak ada bantuan pelatihan atau ketrampilan tertentu dari operator migas, atau pemkab Bojonegoro,” akunya.
Dia meuturkan, pelatihan kepada guru telah ada tindak lanjut, dan baru berjalan sekira satu tahun. Dengan proses sertifikat selesai pelatihan, dan dievaluasi melalui pendampingan dari Sampurna Fondesen. “Alhamdulillah tahun ini meluluskan 27 anak, tahun yang lalu 19 anak, dan tahun sebelumnya 32 anak,” imbuhnya merincikan.
Ditambahkan, dari total anak yang diluluskannya tak lantas semua kerja atau berkuliah. Tetapi, Ada yang kuliah ada juga yang kerja di proyek Banyuurip menjadi Satpam atau tenaga kerja lainnya. Sedangkan yang kuliah ada yang menjadi guru, dan humas.
“Ada lima sampi 10 persen kuliah di Unsuri, dan ada yang di Nganjuk,” tuturnya.
Ketika disinggung terkait program Generasi Emas yang dilakukan Pemkab Bojonegoro, apakah sekolahannya juga mendapatkan bantuan infrastruktur, berupa gedung, sarana prasarana pendidikan dari Pemkab Bojonegoro. Dia mengaku, belum mendapatkan program generasi emas dari Pemkab Bojonegoro tersebut.
“Saya kok belum terima, ya. Tapi ya tidak tau kalau masih dalam proses,” pungkasnya. Semoga saja SMAI saya ini segera ada perhatihannya baik dari EMCL maupun Pemkab Bojonegoro,” imbuhnya mengharapkan. (sam)