SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Pekerjaan nelayan sudah banyak ditinggalkan oleh warga dipesisir Lamongan, Jawa Timur. Mereka lebih memilih bekerja di luar jawa atau menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari pada menjadi pengarung samudera.
Resiko yang cukup besar dan penghasilan yang tidak pasti Menjadi alasan warga di kampung nelayan,khususnya bagi para pemuda tidak mau Melirik lagi pekerjaan warisan leluhur tersebut.
Setiap tahunnya belasan hingga puluhan pemuda di kampung nelayan di dua Kecamatan yaitu Brondong dan Paciran berangkat hijrah menjadi TKI.
Seperti di Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, hampir 25 persen warga yang bekerja di luar negeri. Dari jumlah penduduk sekitat 7 ribu jiwa sebanyak 1500 bekerja sebagai TKI atau diluar jawa.
“Setiap tahun belasan pemuda desa yang notabene keluarga nelayan pergi merantau. Mereka tidak tertarik lagi menjadi nelayan,” kata Sekretaris Desa (Sekdes) Labuhan, Musroin, kepada SuaraBanyurip.com,Rabu (29/7/2015)
Mereka nekad merantau karena ingin merubah nasib setelah merasakan pekerjaan nelayan tidak bisa lagi dapat diandalkan.
“Mereka berangkat merantau karena sudah ada yang mengajak. Teman atau keluarga yang telah sukses diperantauan,” jelas Musroin.
Kebanyakan negera yang menjadi tujuan warga yaitu Malaysia dan Brunei Darussalam. Kebanyakan mereka bekerja diperusahaan kontraktor sebagai tenaga tukang atau kuli bangunan
Warga Labuhan mulai menjadi TKI sejak tahun 1992. Melihat kesuksesan para TKI tersebut semakin banyak warga lainnya yang tergiur untuk menjadi TKI.Tahun 1995 menjadi tahun keemasan banyaknya TKI asal Desa Labuhan.
Kasi Ekbang Desa Labuhan, Ruston, mengaku juga eks TKI. dirinya memburu ringgit di Malaysia dari tahun 1995-2001.
“Kalau ada yang membawa memang lebih mudah mencari uang di Malaysia. Saya tidak heran kalau banyak pemuda sini yang memilih jadi TKI dari pada menjadi nelayan,” katanya. (tok)