SuaraBanyuurip.com – Winarto
Bojonegoro – Insiden mengamuknya ribuan tenaga kerja di area proyek engineering, procurement and construction (EPC) – 1 Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, pada Sabtu (1/8/2015) kemarin, juga menjadi perhatian Lembaga Informasi dan Komunikasi Masyarakat Banyuurip Bangkit (LIMA 2B).
Lembaga swadaya masyarakat lokal sekitar Lapangan Banyuurip yang konsen di bidang informasi dan komunikasi itu menilai, kerusuhan yang terjadi dalam proyek EPC 1 Banyuurip kemarin karena kurangnya sarana komunikasi bagi kontraktor dengan pekerjanya.
Menurut Direktur LIMA 2 B, Mugito Citrapati, sarana komunikasi itu penting untuk mewadahi semua keluhan pekerja. “Kalau ada wadahnya semua permasalahan dapat diselesaikan melalui komunikasi bersama antara kontraktor dan pekerja,” kata Lek Git sapaan akrab Mugito Citrapati.
Selain itu lanjut dia, para kontraktor juga harus transparan menyampaikan apa pun khususnya terkait aturan di dalam proyek dengan bahasa dan kultur para pekerja itu sendiri. “Kalau tidak, maka akan terjadi miskomunikasi dan salah faham antar keduanya,† imbuhnya.
Dia mengungkapkan, selama ini pekerja tak mengetahui harus kemana melaporkan permasalahan yang dihadapinya. Selain itu, lanjut Lek Git, para pekerja juga merasa takut di berhentikan dari pekerjaannya jika melaporkan permasalahan atau ketidakadilan yang diterimanya.
“Akibatnya permasalahan itu terus menumpuk dan akhirnya diluapkan saat ada kesempatan. Karena itu perlu adanya wadah sehingga ada jembatan komunikasi antara pekerja dan kontraktor,†saran Lek Git.(win)