SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongam – Meski memasuki musim kemarau, petani di beberapa wilayah Lamongan,Jawa Timur, saat ini tengah menikmati panen padi. Naiknya harga padi pada musim kemarau ini menjadi berkah tersendiri bagi petani.
Beberapa wilayah yang saat ini tengah panen padi yaitu Kecamatan Babat, Pucuk, Sekaran, Sukodadi, Sekaran dan Maduran. Dalam sepekan terlihat kesibukan petani yang sedang  memanen padi di sawah  untuk merontokkan bulir padi dari tangkainya dengan mesin perontok.
Menurut Jiman, salah seorang petani di Desa Porodeso, Kecamatan Sekaran, pada panen musim kemarau kali ini hasilnya cukup memuaskan. Rata-rata perhektar sawah menghasilkan 5 sampai 6 ton gabah.
“Harga jualya juga lumayan tinggi. Rp4500-Rp4600 perkilogram,” kata dia kepada suarabanyuurip.com, Rabu (5/8/2015).
Harga tersebut merupakan patokan pedagang yang biasa membeli hasil panen langsung di sawah. Harga bisa lebih tinggi jika petani mau menjemur sendiri hasil panenannya.
“Kebanyakan petani langsung menjual ke bakul. Lebih praktis dan mumpung harganya tinggi,” ujar petani lain di Desa Sumurgenuk, Kecamatan Babat, Mulyono.
Selama bercocok tanam di musim kemarau, petani mengaku menggunakan irigasi dengan mendesel air dari sungai, rawa atau sumur di sawah. Sebab selama tanam hingga panen tidak ada hujan turun sama sekali.
“Untuk biaya mendesel air Rp50 ribu per 100 Ru atau sekitar Rp350 ribu perhektar. Dari tanam hingga panen butuh 5-6 kali mendesel air,” kata Mulyono, mengungkapkan.
Usai memanen padi, petani akan kembali menanami lahan pertaniannya dengan tanaman yang tidak membutuhkan banyak air. Seperti semangka, garbis,kacang hijau dan shorgum. (tok)