SuaraBanyuurip.com -Â Edy Purnomo
Tuban – Musim kemarau tahun ini telah membuat kondisi sebagian masyarakat di Kabupaten Tuban, Jawa-Timur kelimpungan. Pasalnya, mereka mulai dilanda kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti minum dan memasak setiap harinya. Jikapun bisa memenuhi, mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh, yaitu kurang lebih dua kilo meter.
Hal itu, dialami oleh warga Desa Tanggulangin, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban. Untuk mencukupi kebutuhan air bersih, warga sekitar menggantungkan salah satu sumber mata air yang berada ditengah kawasan hutan di Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Parengan selama musim kering.
Jarak mata air ini, sekitar dua kilometer dari pemukiman penduduk Desa Tanggulangin, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban. Meskipun jauh, warga tetap menempuhnya untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak.
“Ini untuk minum dan memasak,†kata Tarso (56), warga Desa Tanggulangin yang mengambil air di tengah hutan ini, kepada suarabanyuurip.com, Selasa (18/08/2015).
Mengambil air di tengah hutan ini, kata Tarso, menjadi alternatif agar tetap mampu mencukupi kebutuhan air bersih. Lantaran sungai-sungai di desa yang ada sudah mengering. Selain itu, bantuan sumur bor dari pemerintah selama musim kemarau mempunyai kualitas yang tidak begitu bagus dan cenderung berwarna keruh.
“Jadi tidak dimungkin untuk dibuat minum atau memasak, alternatifnya warga mengambil air disini,†keluh Tarso.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban, Joko Ludiyono, mengatakan kalau kekeringan di Kabupaten Tuban meluas. Pada awal Agustus lalu kekeringan melanda 6 kecamatan, pada Minggu ketiga ini meluas menjadi 8 kecamatan.
“Ada 8 kecamatan yang sudah meminta dropping air bersih,†kata Joko Ludiyono.
Kekeringan meliputi Kecamatan Semanding, Kecamatan Grabagan, Kecamatan Senori, Kecamatan Parengan, Kecamatan Kerek, Kecamatan Montong, Kecamatan Bangilan, dan Kecamatan Rengel.
“Semoga tidak meluas lagi,†imbuhnya. (adp)