SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Mengeringnya rawa di Kecamatan Pucuk dan Sekaran,Kabupaten Lamongan, Jawa Timur selama musim kemarau kali ini menjadi berkah petani setempat. Rawa itu dimanfaatkan para petani untuk ditanami garbis dan semangka.
Saat ini sebagian dari petani tengah menikmati panenan dan menaguk untung besar sejak seminggu terakhir ini. Â Beberapa truk dan mobil pick up terlihat terparkir ditepi jalan siap mengangkut hasil panenan.
“Sebagian hasil panenan dijual ke tengkulak besar mas. Mereka mengangkutnya dengan truk untuk dijual kekota besar seperti Jakarta,Bandung,Surabaya dan Semarang,” kata salah satu petani Tomo kepada suarabanyuurip.com, Selasa (15/9/2015).
Selain tengkulak besar, pembelian garbis dan semangka juga dari pedagang yang membeli dengan bijian untuk dijual disekitar pasar di wilayah Lamongan.
Harga garbis dan semangka saat ini masih relatif tinggi karena belum memasuki panen raya. Untuk harga garbis Rp3500/kilogram, dan semangka Rp.3500-6000 sesuai dengan kelas buah.
Sedang saat musim garbis dan semangka harga biasanya turun dikisaran Rp2000 ke bawah. Rata-rata petani menjual garbis dengan cara bijian dan sistim tebasan (borongan).
“Kalau tebasan sistimnya buah yang masih di lahan dibeli oleh bakul dengan proses tawar menawar. Kalau harga cocok baru dilepas,” ujar petani lainnya, Maruji.
Umumnya pembelian dengan sistem tebasan dilakukan oleh para pedagang besar untuk dijual ke kota-kota besar.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala UPT Pertanian dan Perkebunan Kecamatan Sekaran, Hari mengungkapkan, dari sekira 790 hektar rawa di Kecamatan Pucuk dan Sekaran, seluas 100 Ha yang dimanfaatkan petani untuk menaman garbis dan semangka.
“Petani memanfaatkan lahan kosong rawa yang kering saat kemarau. Di saat musim penghujan rawa menjadi penampung air untuk irigasi pertanian di Kecamatan Pucuk dan Sekaran,” jelasnya.
Selama bercocok tanam di rawa petani tidak dikenakan biaya sewa serupiahpun.(tok)