SuaraBanyuurip.com -Â Edy Purnomo
Tuban – Tokoh masyarakat (Tomas) di sekitar Lapangan Tawun Gegunung, meminta semua pihak kedepankan komunikasi untuk menyikapi adanya kemelut pengelolaan sumur tua di lapangan setempat.
“Masalahnya itu kompleks, perlu dilakukan komunikasi yang baik antara masyarakat penambang dengan perusahaan yang akan masuk disana,” kata Armaya Mangkunegara, kepada Suarabanyuurip.com, Senin (28/09/2015).
Putra pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Walisongo, di Dusun Gomang, Desa Laju Lor, Kecamatan Singgahan, Tuban, Jawa Timur ini, mengatakan, pada prinsipnya pengelolaan minyak mentah harus sesuai prosedur dan aturan yang berlaku.
“Pada prinsipnya harus dikelola sesuai dengan prosedur yang ada, tetapi baik PT TGE dan PD Aneka Tambang juga jangan sampai menghilangkan dan menggerus kearifan lokal yang ada,” kata pria yang merampungkan S2 dan S3 di Universitas Airlangga ini menegaskan.
Selain itu, penambangan ilegal memang perlu ditertibkan untuk kepentingan semua pihak. Tetapi selalu ada beberapa dampak sosial yang menyertainya. Hanya saja, kata Armaya, perlu dilakukan komunikasi yang baik antara perusahaan dengan masyarakat penambang yang ada di lapangan setempat.
“Itulah pentingnya menjalin komunikasi, pasti ada nilai tawar yang bisa dimengerti dan dipahami semua pihak. Sehingga tidak ada yang dirugikan,” tandasnya. (edp)