SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Pemerintah Desa (Pemdes). Wadu, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa-Tengah, megaku, sudah delapan bulan pengajuan listrik ke PLN yang dilakukan oleh petani Wadu belum juga realisasi. Listrik tersebut direncanakan sebagai tenaga penggerak pompa air untuk mengairi sawah.
Kepala Desa Wadu, Kasdi, Â mengungkapkan, saat ini petani sangat membutuhkan aliran listrik guna memenuhi kebutuhan tanaman pertaniannya berupa air. Upaya pengajuan Listrik yang dilakukan para petani sudah sekira delapan bulan tidak mendapat respon dari PLN.
“Kami sudah mengajukan kepada PLN Cepu. Sudah delapan bulan belum realisasi,” katanya.
Menurutnya, upaya para petani beralih ke tenaga listrik untuk mengurangi biaya operasional pengairan sawah, karena menggunakan mesin Diesel pengeluaran operasionalnya banyak.
“Diyakini petani dengan menggunakan listrik bisa lebih hemat,” kata dia.
Hal serupa juga dirasakan petani di Desa Cabean Kecamatan Cepu. Kebutuhan Listrik  terus bertambah seiring dengan mahalnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mesin pengairan sawah membawa dampak tingginya ongkos operasional. Sehingga memaksa warga untuk beralih ke listrik sebagai penggerak mesin pompa air.
Salah satu perangkat Desa Cabean, Muharyanto, menuturkan, dibandingkan dengan solar, biaya pengairan dengan tenaga listrik lebih hemat. Hanya saja, harapan petani terasa kandas, karena PLN Cepu juga belum mengabulkan permohonan warga.
“Rencana beralih ke listrik, tapi sudah setahun lebih kami mengajukan penambahan jaringan sampai saat ini belum ada realisasinya,” katanya.
Sementara itu, Manajer PLN Rayon Cepu, David Ronaldo, menjelaskan, belum direalisasikannya permohonan warga. PLN masih butuh perluasan trafo, karena tidak bisa dilayani dengan trafo existinglasannya sudah Over Blasy (OB). Namun tidak bisa langsung dipenuhi, dan perlu melihat ketersediaan stok material trafo serta rasio investasi PLN.
“Jadi, harus minta trafo dari Kudus untuk sisipan. Supaya bisa melayani ke sana,” katanya. (Ams)