SuaraBanyuurip.com -Â Winarto
Bojonegoro – Tradisi Syukuran ketupat atau yang lebih dikenal dengan istilah jawa “Gumbrekan” hingga saat ini masih selalu dilaksanakan oleh para petani sekitar Ladang Migas Banyuurip, Blok Cepu. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh warga Desa Begadon, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (08/10/2015).
Tradisi peninggalan nenek moyang ini dilakukan, tujuan utamanya adalah untuk mengusir hama tikus yang menyerang tanaman. Sebelum sesepuh desa membacakan do’a – do’a, terlebih dahulu ketupat yang dibawa warga dikumpulkan jadi satu. Selanjutnya ketupat tersebut ditukar dengan ketupat warga lain.
“Intinya sebelum tikus menyerang tanaman padi, kami melaksanakan tasyakuran ini, memohon kepada sang pencipta agar diberikan keselamatan tanaman padi kami” ungkap Samin, warga setempat kepada suarabanyuurip.com disela acara Gumbrekan yang digelar di lahan pertanian.
Dia menjelaskan, adat jawa ini masih kental di yakini warga dapat sebagai tolak hama. Jika Gumbrekkan ini ditinggalkan maka banyak hama tikus maupun yang lainnya menyerang pada tanaman.
“Percaya tidak percaya kenyataanya jika penyelenggaraan ini ditinggalkan banyak tikus serta hama lainya menyerang tanaman kami,” katanya.
“Untuk hari kita ada kesepakatan dan diberitahu oleh petugas irigasi. Ketepakan acaranya saat ini jatuh pada hari Kamis kliwon malem Jum’at legi,” imbuhnya.
Diharapkan, setelah dilakukan prosesi “Gumbrekan” padi yang kini sudah berusia satu bulan setengah ini bisa tumbuh normal, dan harga padi nantinya juga bisa sesui harapan.
“Untuk ketupat nantinya dikubur disetiap sudut pematang sawah,” sambung Warijan petani lainnya. (Win)