Sucikan Pusaka di Awal Suro

SuaraBanyuurip.com - Edy Purnomo

Tuban – Awal bulan Muharram, atau bulan Suro (jawa) menjadi momentum berharga bagi pemilik senjata pusaka. Seperti yang lain, pemilik pusaka peninggalan nenek moyang di Kabupaten Tuban juga menjalani ritual ngumbah pusoko (mencuci benda pusaka).

Salah satu kolektor senjata pusaka di Tuban, Jawa Timur, Herwanto (40), warga Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding, juga melakukan ritual serupa. Pria yang mempunyai padepokan kecil dan dibangun di atas sungai ini menjamas (mensucikan pusaka dengan air kembang) dan mewarangi (membalur senjata pusaka dengan minyak khusus).

“Tujuannya untuk menjaga tradisi nenek moyang kita, supaya generasi muda juga mengenal,” kata pria berambut panjang ini, Rabu (14/10/2015).

Herwanto, mengatakan, memang ada ritual khusus yang dilakukan sebelum mensucikan benda pusaka miliknya. Tujuan ritual ini, selain menjaga tradisi, juga mempunyai beberapa maksud lain. Seperti agar keindahan dan kondisi pusaka tetap terjaga, dan agar pamor dari senjata ini bisa muncul.

“Ini saya lakukan setiap awal bulan Suro,” katanya.

Baca Juga :   Perusahaan Sedang Proses Tuntutan Warga

Herwanto sendiri, mempunyai 20 keris yang terdiri dari berbagai jenis. Bahkan ada yang keris luk 13 (keris panjang yang mempunyai liku 13) peninggalan dari Mataram, keris ini dipercaya bisa meningkatkan kesaktian dan kewibawaan bagi pemegangnya saat itu.

Selain itu, Herwanto juga mempunyai 10 tombak dari berbagai jenis. Ada tombak yang berasal dari Tuban sendiri dan tombak yang berasal dari Solo, dengan nama Panembahan Senopati yang dikenal sebagai tombaknya panglima perang.

Kepada Suarabanyuurip.com, Herwanto mengakui mendapatkan keris dan tombak ini dari berbagai cara. Termasuk ada orang yang tidak kenal menemuinya, dan tiba-tiba meminta supaya dia menjaga pusaka yang diberikan. (Edp)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *