SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Gagalnya beberapa program Corporate Sosial Responbility (CSR) dari Operator Lapangan Sukowati, Blok Tuban, yang diberikan kepada masyarakat di Desa Ngampel Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, memantik reaksi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Cahaya Alam Hijau.
“Seharusnya sebelum memberikan program CSR itu, harus merubah pola pikir masyarakat dulu,” ujar anggota LSM Cahaya Alam Hijau Solikin kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (12/11/2015).
Terutama untuk program pembibitan tanaman produktif seperti buah-buahan yang saat ini tidak memberikan hasil apa-apa kepada masyarakat karena mati. Untuk merawat tanaman tersebut sampai berbuah membutuhkan pengetahuan yang cukup.
“Karena mereka harus tahu persis apa gunanya tanaman, lalu dijelaskan bagaimana awal pembibitan, perawatan sampai berbuah,” tukasnya.
Sehingga, masyarakat mengetahui pentingnya menanam pohon dan merasa butuh dalam penataan lingkungan. Kalau hanya diberi bibit lalu dibiarkan begitu saja, pasti tidak akan berkembang.
“Melihat kondisi tanaman pemberian JOB P-PEJ yang mati di Desa Ngampel itu karena tidak ada tindak lanjut. Hidup syukur, mati juga tidak apa-apa,” tandasnya.
Apabila kondisinya seperti itu, kewajiban masyarakat hanyalah menanam. Tapi kalau kapasitas masyarakat itu ditingkatkan dan diberi pengetahuan maka masing-masing keluarga akan ikut merawat.
“Kalau berhasil, semua tanaman itu akan menghasilkan oksigen dan mampu menyimpan air tanah,” jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Desa Ngampel, Pujianto, mengatakan, program CSR dari JOB P-PEJ gagal total. Diantaranya, pembibitan benih ikan, pemberian ternak, budidaya Kaliandra, dan pembibitan tanaman buah.
“Gagal ya sudah, mau gimana lagi,” pungkasnya. (Rien)