SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Sedikitnya 1000 pelajar tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), dan masyarakat Kabupaten Tuban, Jawa Timur berbondong-bondong membubuhkan tanda cap tangan di kain putih sepanjang 10 meter.
Aksi damai tersebut dilakukan dalam rangka menyambut Hari Anak Internasional (HAI) yang diperingati setiap tanggal 20 Nopember 2015, di Gedung Pujasera, Jalan Sunan Kalijaga Tuban.
Direktur Ekskutif Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) Tuban, Nunuk Fauziyah, saat ditemui di lokasi mengatakan, bubuhan 1000 cap tangan tersebut sebagai simbol keprihatinan masyarakat dan pelajar, atas maraknya kasus kekerasan anak dan perempuan di wilayah setempat.
Tercatat, sejak bulan Januari sampai bulan Nopember 2015 di Kabupaten Tuban terjadi sekitar 110 kasus kekerasan, dan di tahun 2014 terjadi 120 kasus serupa. Maraknya kasus tersebut didominasi kasus kekerasan seksual dengan jumlah hampir separuh kasus secara keseluruhan.
“Kasus lainnya kekerasan fisik, dan penelantaran anak,â€kata Nunuk kepada SuaraBanyuurip.com, Kamis, (19/112015).
Selain pembubuhan cap tangan, KPR juga menggandeng Forum Anak Ronggolawe (FAR) dalam lomba poster, bertemakan Menolak dan Melawan Kekerasan Terhadap Anak. Lomba tersebut bertujuan mengapresiasi kreatifitas anak Tuban, dan menanamkan cita serta kasih sayang terhadap korban kekerasan.
“Kekerasan harus ditolak tanpa kompromi melalui poster,†imbuhnya.
Kegiatan tersebut dihandel oleh FAR secara langsung, tujuannya melatih kemandirian kepada anak agar lebih Percaya Diri (PD) menyuarakan penolakan terhadap kekerasan anak. Sampai saat ini ada 35 anak yang sudah tergabung dalam forum tersebut.
Sementara, Ketua FAR Tuban, Erlina Afristia, berharap bahwa semua pihak harus turut memperhatikan masa depan anak, karena anak memiliki hak untuk tumbuh dan kembang secara normal.
“Melalui poster anak dapat mengetahui pentingnya menolak kekerasan,†ungkap Erlin sapaan akrabnya di MAN Tuban.
Ditambahkan, orang tua harus memberikan perhatian lebih terhadap anak didiknya, karena pendidikan tanpa kasih sayang tidak ada maknanya. Selain itu, berbagai lapisan masyarakat harus mendukung penolakan terhadap kekerasan melalui poster tersebut. (Aim)