SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Komunitas masyarakat di ring 1 Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, Langit Tobo akan menggelar kenduri atau pertemuan dengan pemuda sekitar di Dusun Korgan, Desa/Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, pada minggu (6/12/2015) mendatang.
“Kami akan diskusi mengenai kondisi masyarakat sekitar Blok Cepu yang masih memprihatinkan,” kata Dewan Pembina Langit Tobo, M Rokib, kepada Suarabanyuurip.com, Jumat (4/12/2015).
Dalam diskusi yang mengusung tema “Air Mata Masyarakat Migas” ini, akan mengupas kondisi masyarakat yang masih memprihatinkan meskipun memiliki kekayaan sumber daya alam yaitu migas. Tentu, dengan adanya migas ini mendongkrak pendapatan daerah.
“Justru yang menikmati itu oknum-oknum yang punya akses kuat,” kata Rokib, sapaan akrabnya.
Bahkan, menurutnya, masyarakat bawah, orang-orang kecil, hanya melihat saja minyak di bawah buminya diambil. Padahal, mereka terkena dampak, suhu yang semakin panas, lahan yang berkurang, pekerjaan yang menyempit, dan kekeluargaan yang renggang.
“Kemiskinan semakin tinggi, karena biaya hidup semakin mahal, sementara pendapatan berkurang,” tukasnya.
Jurnalis senior di Bojonegoro ini menyampaikan, berakhirnya proyek EPC 1 dan 5 nantinya akan meningkatkan jumlah pengangguran. Artinya, juga semakin memperburuk kehidupan masyarakat sekitar ladang migas.
“ini juga jadi beban tambahan. Jurang semakin lebar, yang kaya dan punya akses makin kaya, yang miskin dan gak punya akses, semakin miskin. Dilema masyarakat migas seperti itu,” tegasnya.
Dia berpendapat, solusi untuk kondisi masyarakat di ladang migas saat ini adalah, pemerintah harus membuat usaha yang mampu menyerap tenaga kerja banyak. Sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi harus mendapat perhatian.
“Kalau industri migas digenjot, sementara masyarakat tersisih pasti akan timbul gejolak,” lanjutnya.
Maka, keduanya, industri dan masyarakat sekitarnya harus tumbuh dan berkembang bersama. kalau tidak, pasti akan terjadi konflik, bisa jadi muncul seperti Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh.
Diskusi yang digelar setiap bulannya ini akan mendatangkan tokoh pemuda dari Blok Cepu, Djaswadi dengan selingan stand up comedy agraris. (Rien)