SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Operator migas Lapangan Sukowati, Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ) akan mengkaji ulang kegiatan flaring Pad A di Dusun Plosolanang, Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang dioperasikan sejak sebulan terakhir.
“Kita akan mengkaji ulang, apakah kegiatan flaring ini berdampak bagi warga sekitar,” kata Field Administration Superintendant, JOB P-PEJ, Akbar Paradima, kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (10/12/2015).
Kaji ulang ini dilakukan setelah adanya tuntutan beberapa warga setempat yang mengajukan kompensasi. Tuntutan ini dilakukan oleh sejumlah perwakilan dari tiga RT (Rukun Tetanggaa) pada Rabu (9/12/2015) kemarin sore dengan mendatangi lokasi Pad A.
“Kami tidak akan tutup mata kalau memang masyarakat dirugikan,” tukasnya.
Flaring tersebut dilakukan untuk water inject pada sumur-sumur lama supaya bisa memproduksi minyak dengan maksimal. Apabila gas yang keluar tidak dibakar, justru akan berbahaya.
“Sesuai hitungan tekhnis, gas yang keluar masih dibawah ambang batas yakni 0,2 MMSCFD,” tandasnya.
Dengan jumlah gas yang sangat rendah tersebut, dipastikan tidak memberikan dampak bagi warga sekitar seperti bau, panas, dan sebagainya. Namun, apabila warga merasa dirugikan butuh pembahasan lebih jauh lagi dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).
“Apalagi masalah kompensasi, kita tidak bisa begitu saja memberikannya. Dan sekarang masih dilakukan pembasahan terkait itu di internal,” tukasnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Imam Sutikno, menyebutkan, sejak seminggu terakhir masyarakat sekitar Pad A mengalami sesak nafas, suhu yang semakin panas, dan tanaman petani menjadi terganggu atau mati.
“Kami minta tanggung jawab JOB P-PEJ dengan adanya flaring itu,” pungkasnya.(rien)