SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, Suyoto, mengungkapkan, dengan pergantian Direktur Utama Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) merupakan upaya menyelamatkan instansi yang selama ini tidak produktif.
“Sebagai perusahaan PT BBS masih akan diselamatkan atau tetap dipertahankan. Salah satu solusinya kita angkat Dirut baru Pak Eddy Fritz, mantan GM JOB PPEJ,” katanya beberapa waktu lalu.
Pemilihan Eddy dilakukan, setelah pihak Pemkab Bojonegoro melakukan identifikasi beberapa nama untuk dibuat prioritas.
“Setelah itu kita fit and proper test, kita yakinkan supaya mau. Setelah bersedia, dikukuhkan dalam RUPS. Jadi mekanismenya adalah mekanisme berburu, bukan lelang terbuka yang membuka lamaran,” jelasnya.
Kang Yoto, sapaan akrab Suyoto, menjelaskan, dipilihnya Eddy Fritz ini karena, yang bersangkutan memiliki kompetensi, integritas, jaringan dan pengalaman.
“Satu lagi sewaktu-waktu dapat dievaluasi bila tidak mencapai kinerjanya,” tambahnya.
Seperti diketahui, Pemkab Bojonegoro menilai jika selama satu tahun ini PT BBS tidak memiliki visi bisnis. Sehingga menyebabkan tidak ada lagi pemasukan unggulan selain dari industri minyak dan gas bumi (Migas).
“Selain migas, ya tidak ada lagi pemasukan unggulan,” kata Kepala Dinas Pendapatan, Herry Sudjarwo.
Salah satu contoh bisnis yang seharusnya bisa mendongkrak pendapatan daerah namun gagal direalisasi adalah proyek fasilitas gas suar bakar (gas flare) dari Lapangan Sukowati.
Data di Dispenda Pemkab Bojonegoro menyebutkan, realisasi pendapatan PT BBS tiga tahun terakhir antara lain 2013 Rp 811.010.082 dari target Rp 3.450.000.000, 2014 senilai Rp 4.636.256.706, dari target yang sama. Dan di tahun 2015 senilai Rp 500.000.000 dari target Rp 2.990.400.000. (rien)