Selamatkan Hutan Melalui Lomba Ulat Jati

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban –  Sebagian warga Desa Gowaterus, dan Ngulahan, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sibuk mengikuti lomba balap ulat jati, dan joget kepompong. Acara bertajuk penyelamatan lingkungan tersebut digelar di RPH Ngulahan, BKPH Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Tuban.

Selain penyelamatan hutan, warga setempat juga berniat menarik perhatian wisatawan lokal maupun Nasional. Salah satunya mengoptimalkan ulat jati sebagai sarana hiburan dari sekitar area destinasi wisata Goa Putri Asih.

“Tujuannya untuk meramaikan Goa Putri Asih,” kata salah satu juara balap ulat, Supriyo (40), kepada Suarabanyuurip.com, ketika ditemui usai lomba, Sabtu (02/01/2016).

Hal menarik lainnya, tidak semua ulat jati dapat diikutkan lomba balap. Terbukti ulat jati pilihannya mampu menjuarai perlombaan, dengan ciri ulat yang memiliki corak garis kecoklatan dan kemerahan.

“Ulat yang ada warna merahnya larinya cepat,” imbuhnya.

Diketahui, dari ribuan ulat jati yang muncul ada beberapa jenisnya. Selain warna ukuran tubuh ulat juga menjadi pertimbangan peserta.

Sebagai masyarakat setempat keberadaan wisatawan sangat diharapkan. Penyebabnya ketika musim ulat dan kepompong tiba, sebagian masyarakat berusaha menyajikan dalam bentuk kuliner.

Baca Juga :   Lubang Maut Sepanjang Poros Kecamatan Purwosari-Tambakrejo

“Rasanya enak, dan banyak proteinnya,” tambahnya.

Sementara, Asisten Perhutani (Asper) Badan Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Muhammad Badar, mengatakan, perlombaan ulat merupakan upaya menjaga keletarian hutan setempat.

Penyebabnya keberadaan ulat dan kepompong menandakan adanya habitat yang harus terlindungi. Selain itu, warga setempat bisanya mengumpulkan ulat dan kepompong untuk dijual ataupun dikonsumsi.

“Selain menghibur, kami juga mengajak warga mencintai hutan,” sambungnya.

Pihaknya berharap, masyarakat sekitar turut menjaga hutan lindung sekitar Goa yang sempat ditutup beberapa waktu lalu. Sehingga Sumber Daya Alam (SDA) Hayati tersebut, menjadi penyeimbang alam yang mulai menua. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *