Warga Lebih Nyaman EPF Dimatikan

SuaraBanyuurip.comAthok Moch Nur Rozaqy

Bojonegoro – Warga yang tinggal di sekitar Gas Oil Separation Plant/Early Production Facility (GOSP/EPF) Banyuurip, Blok Cepu, di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mengaku merasa lebih nyaman sejak flare di shutdown (matikan) pada Jum’at (15/1/2016) pukul 23.59 WIB.

Lokasi flare Banyuurip mencakup tiga desa yakni Begadon, Ringintunggal, dan Gayam. Dimatikannya api flare GOSP ini dikarenakan perpanjangan sewa EPF telah habis mulai 15 Januari sehingga semua kegiatan pemrosesan minyak mentah dialihkan di central processing facility (CPF).

Warga Desa Begadon, Kecamatan Gayam, Sodikin mengungkapkan, sejak flare di shutdown suara bising kegiatan yang biasanya terdengar di GOSP tidak lagi terdengar. 

“Banyak warga yang bilang merasa nyaman,”kata dia kepada Suarabanyuurip.com Senin (18/1/2016).

Menurutnya, selama kegiatan flaring berlangsung sebenarnya warga merasa terusik. Namun demi keberlangsungan proyek negara, warga pun terpaksa memakluminya. Bentuk suara yang biasanya kerap dikeluhkan adalah suara sirine yang berbunyi sewaktu – waktu. Kemudian tak jarang bau yang tak mengenakkan. 

Baca Juga :   SKK Migas Jabanusa Gandeng PWI Jatim Gelar Lomba Karya Jurnalistik

“Yang jelas terasa beda,” tambahnya.

Kepala Desa Begadon, Pardi tak menyangkal apa yang dirasakan warganya. Diakuinya kegelisahan warga terasa berkurang sejak flare mulai dishutdown. Menurut dia, suara bising dan bau memang kerap dirasakan oleh warga disekitar lokasi GOSP.

“Intinya ada kenyamanan, bau – bau yang biasanya tercium sekarang sudah tidak ada lagi,”ucapnya.

Pantauan suarabanyuurip.com sejak dilakukan shutdown api flare di GOSP perlahan tampak mengecil.‎(roz)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *