SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Tatik Catering dan Bakery makin berkembang pesat. Hal itu tak lepas dari bantuan alat yang diberikan TWU.
Suasana panas dan gerah siang itu tak mengurangi aktivitas seorang perempuan paruh baya untuk terus bekerja keras. Dia masih tampak sibuk menyiapkan pesanan catering. Beberapa tumpukan kotak dan kueterlihat menghiasi sebagian isi ruang tamu.
Perempuan itu adalah Hartatik, seorang pengusaha catering dan bakery yang dikenal sukses dari Dusun Bendo, Desa Katur, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, JawaTimur. Bu Tatik, demikian biasa disapa hampir tidak pernah sepi menerima pesanan kue atau pun makanan katering. Termasuk dari kontraktor yang terlibat diproyekLapangan Banyuurip, Blok Cepu.
Apa yang dicapainya saat ini bukan secara instan, namun melalui proses yang cukup panjang. Bu Tatik telah merintisnya sejak tahun 2005 silam.
Namun seiring munculnya kabar PT Tri Wahana Universal (TWU) akan menghentikan operasi kilang mini membuatnya cemas. Sebab selama bertahun-tahun ini, dirinya banyak menerima pesanan dari perusahaan Jakarta tersebut. Baik itu snack, roti maupun makanan.
“Setiap ada kunjungan direksi pesannya selalu kesini,†kata Bu Tatik membuka perbincangan dengan suarabanyuurip.com, pekan ketiga Januari lalu.
Kemudian Bu Tatik berkisah, sebelum gemerlap proyek Lapangan Banyuurip dimulai, dia telah lebih dulu menggeluti usaha jasa makanan. Bahkan, sempat berjualan kue golang – galing di Pasar Kota Bojonegoro. Dia berangkat dari rumah berangkat jam 02.00 Wib pagi dini hari dengan menggunakan jasa angkot jurusan Bojonegoro – Cepu.
“Jualan seperti itu juga pernah saya lakukan,†ucapnya.
Tak hanya kue, untuk urusan kebutuhan makanan suatu hajatan, masyarakat setempat juga memesan dari hasil masakan Bu Tatik. Termasuk ketika awal mula pendirian PT.Tri Wahana Universal (TWU), perusahaan kilang mini yang beralamatkan di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu. Meski pada saat itu masih kecil – kecilan, namun hasil olahan masakan Bu Tatik sudah mendapat kepercayaan.
Bu Tatik mengaku pernah belajar dari seseorang tentang resep makanan dan kue. Kemudian dengan penuh ketekunan dia mencoba mengembangkannya. Menurut dia banyak faktor yang membuat usahanya berkembang. Salah satunya keyakinan atas berkah setelah menunaikan ibadah haji.
“Saya berangkat haji tahun 2013. Setelah itu usaha saya terasa lancar,†ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, usaha yang dirintis sejak tahun 2005 itu terus mengalami kemajuan. Hingga kemudian memiliki catering dan bakery seperti sekarang. Kebutuhan makanan di sejumlah perusahaan yang ikut terlibat di proyek Lapangan Banyuurip, Blok Cepu juga banyak diambil dari cathering Bu Tatik. Dalam menjalankan usahanya, perempuan berjilbab ini mengaku tidak sungkan untuk menerima masukan dari pelanggannya.
“Saya hanya ingin menjaga kualitas,†katanya.
Nama usahanya pun kian terkenal.Hingga suatu ketika, tepatnya di tahun 2013 lalu, perwakilan direksi dari PT.TWU mendatangi rumahnya langsung. Dia hampir tidak percaya. Perwakilan dari PT.TWU itu datang karena ingin mengetahui perkembangan usaha cateringnya. Dengan senang hati dia pun menyambut serta menceritakan seputar usaha yang telah digelutinya bertahun – tahun itu.
“Namanya Pak Wendra. Beliau datang kesini ingin tahu perkembangan usaha saya. Kemudian melihat proses produksi di dapur. Di ambil foto-fotonya juga,†cerita Bu Tatik.
Setelah kunjungan tersebut, beberapa waktu kemudian Bu Tatik mengaku kaget ketika PT.TWU menawarkan bantuan mesin untuk produksi roti dan kue bakery-nya. Terlebih, mesin tersebut adalah sebuah mesin oven canggih yang diinginkannya. Selain oven, manajemen PT.TWU juga memberi bantuan perlatan penunjang lainnya. Bu Tatik menaksir bantuan yang diberikan senilai Rp.50 juta.
“Mesin itu yang memang ingin saya miliki. Selain oven dibantu mesin pemotong roti dan blender,†tutur perempuan 41 tahun ini.
Sejak saat itu, hasil produksi kue bakkery-nya semakin berkulitas. Dia mengaku lebih percaya diri dalam menjalankan usahanya. Apalagi dia tidak ingin bergantung kepada perusahaan yang terlibat proyek terus menerus. Bu Tatik bercita – cita agar produksinya bisa merambah kepasar luar daerah yang lebih luas.
Apa yang ingin digapai Bu Tatik sudah mulai terwujud. Sebab, pesanan tidak hanya datang dari perusahaan sekitar proyek saja, namun dari beberapa daerah di Bojonegoro dan Cepu. Selain itu, hasil produksi roti bakery-nya juga sudah dipasarkan di pasar ritel modern terdekat.
“Saya lebih percaya diri dengan oven dari TWU,†ucapnya.
Dia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada manajemen PT.TWU. Sebab, selain diberikan bantuan peralatan, para direksi PT.TWU sampai saat ini telah memberi kepercayaan atas usaha yang dia lakukan. Menurut dia, hampir setiap kunjungan direksi manajemen PT.TWU ke Bojonegoro, kebutuhan snack dan makanan dipesan dari catering dan bakerry miliknya.
“Biasanya sampai 50 kotak. Khusus untuk bos – bos di TWU,†katanya.
Mengenai berapa omset, dia mengaku tidak hafal persis. Sebab, tergantung pada jumlah permintaan dan sesuai dengan harga yang ditawarkan. Bu Tatik memiliki beberapa pilihan harga. Mulai dari harga Rp30.000 hingga Rp10.000 per kotak. Dalam sehari dia bisa mengirim pesanan hingga 1500 kotak. Harga tersebut menyesuaikan lauk pauk dan kualitas kotak.
Bu Tatik berharap kegiatan di kilang mini tak berhenti. Sebab, di satu sisi usaha catering yang dijalankan dapat memperkerjakan orang lain. Saat ini dia memiliki 18 karyawan yang setiap hari membantu menjalankan usahanya. Disampig itu, dari sisi bahan baku, Bu Tatik selalu mengambil dari para tetangga sekitarnya. Dengan begitu, dia berharap terjadi simbiosis mutualis yang saling menguntungkan.(roz)