SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Di antara banyak catering local yang mendapatkan berkah dari keberadaan proyek Migas di Banyu Urip, salah satunya adalah CV Agung Rizki, yang dimiliki Siti Maskuratin, warga Begadon, Kecamatan Gayam.
Kepada Wartawan Suara Banyu Urip, dirinya mengungkapkan bagaimana jatuh bangunnya bisnis catering yang selama ini dia lakukan. Diakui oleh Siti, usaha catering yang dirintis dari awal tersebut, tanpa pengetahuan mengenai industri catering.
“Namanya juga orang lokal mas, kita tidak pernah belajar ilmunya usaha catering di sekolah. Tidak seperti industry-industri catering nasional, yang sudah tertara rapi, baik Karyawan maupun menu-menunya. Semua ya latihan sendiri secara otodidak,†ungkap Siti.
Untungnya, dulu di awal proyek, pada tahun 2012, dirinya sempat ikut pelatihan bagi warga lokal untuk membuka aneka macam usaha, salah satunya adalah usaha catering. Tapi diakui siti, pelatihan yang dilakukan oleh PT Tripatra tersebut tidak banyak berarti, karena waktunyayang singkat dan diharuskan praktek.
Menurut Siti, yang banyak memberikan manfaat bagi dirinya sebagai orang yang baru mengawali usaha, justru pendampingan yang diberikan oleh Tripatra, dari awal pelatihan sampai sekarang. Tim Pendamping yang setiap minggu dikirimkan oleh PT Tripatra tersebut, sedikit demi sedikit memberikan panduan dan wawasan dalam  usaha catering.
“Dulu saya tidak membayangkan, betapa sulit dan ruwetnya membuat usaha jasa catering itu mas. Baru setelah nekat terjun langsung, akhirnya bisa merasakan sendiri repot dan sulitnya mengawali sebuah usaha. Untungnya, ada tim pendamping yang setiap minggu melakukan inspeksi ke tempat saya. Mereka memang cerewet, tapi jujur saja sangat bermanfaat,†tutur Siti.
Lebih jauh, Siti bercerita bahwa di awal-awal dirinya membuka jasa catering, sering mendapatkan complain dari Karyawan-karyawan yang menikmati menu hasil masakan ibu-ibu warga Begadon tersebut.
“Dulu sering dikomplain sama orang, pasti ada saja kurangnya, baik dari pemilihan dan penyiapan bahan, cara masak, sampai penyajiannya. Rasanya kesel juga, kok nggak ada puas-puasnya mereka complain,†ujar Siti.
Namun di sisi lain, siti mengakui bahwa dari cerewetnya tim pendamping yang datang tersebut harus disikapi dengan positif, yaitu merubah segala hal yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Diawali dari kebersihan bahan makanan dan kebersihan orang-orang yang memasak makanan tersebut.
“Tukang masak dan yang bantu-bantu usaha catering di tempat saya itu kan semua warga sekitar. Tahu sendiri kan mas namanya kita orang desa, kalau masak ya tidak pakai penutup rambut, masker, kaos tangan. Nah melatih mereka ini juga butuh waktu lama, karena kita awalnya tidak terbiasa, jadi malah ribet,†papar Siti.
Satu hal lagi yang menjadi pelajaran Siti dalam merintis usaha, adalah menyesuaikan diri antara kemampuan dan pelayanan. Hal tersebut yang sangat ditekankan oleh tim pendamping, pada saat melakukan inspeksi.
“Namanya kita masih semangat-semangatnya, kalau ada pesanan banyak ya penginnya ambil semuanya, biar dapat untung banyak. Tapi oleh orang Tripatra justru dimarahi, dan diwanti-wanti untuk mengukur kemampuan diri kita dan menjaga kualitas, sebelum menerima pesanan,†jelas Siti.
Tak heran jika kemudian pesanan catering dari Tripatra dan para sub kontraktornya tidak diberikan kepada satu atau dua perusahaan saja, namun dibagi-bagi kepada banyak perusahaan, agar kemampuan mereka bisa meningkat.
“Selain diingatkan untuk memakai tenaga dari orang-orang local, Kita memang selalu diajari, agar membagi-bagi order ke tetangga sekitar, sehingga mereka juga bisa kecipratan rejeki. Mungkin itu yang akhirnya membawa berkah, usaha saya jadi semakin maju,†aku Siti.
Saat ini, dirinya mengaku sudah mampu menyediakan menu untuk 4000 porsi/kotak sekali kirim, sehingga yakin akan mampu bersaing dengan catering nasional. Dia berharap, selesainya proyek Banyu Urip ini tidak membuat cateringnya menurun, tapi justru meningkat, dengan order-order baru dari proyek yang lain. (roz)