SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Ketidaksengajaan, kadang justru membawa berkah tersendiri. Seperti yang dialami oleh Kartini, Warga Desa Brabowan, Kecamatan Gayam yang saat ini menjadi pemilik CV Tegar Catering.
Awalnya, ceritaKartini, ada pengusaha catering local yang sudah lebih dahulu membuat usaha catering tidak mampu melayani pesanan yang banyak, sehingga oleh Tim Pendamping dariTripatra diminta untuk membagi-bagi order tersebut.
Saat melihat peluang untuk ikut menggarap pesanan makanan para pekerja proyek tersebut, Kartini memberanikan diri untuk mencoba ikut menyajikan makanan. Dari sekadar coba-coba, akhirnya Kartini berhasil membuat CV sendiri, dan berani menerima order langsung dari PT Tripatra maupun perusahaan Sub Kontraktornya.
“Awalnya memang sempat takut mas, karena syarat-syarat penyajiannya sangat ketat.Tempat harus bersih, makanan harus hygenis, cara penyajiannya juga harus mengikuti aturan mereka, karena memang sudah ada ketentutan-ketentuannya dariTripatra, yaitu harus mengutamakan kesehatan makanan,’’ ungkap Kartini.
Dirinya mengakui, agak terlambat terjun dalam usaha catering. Di saat kawan-kawannya dari desa lain sudah memulai di awal-awal proyek BanyuUrip, Kartini mengatakan, dia baru memulai usaha di awaltahun 2014.
“Meski saya tergolong baru dan memulai dari nol, tapi saya mengakui, banyak pelajaran yang sudah bisa diambil dan bisa menjadi bekal saya kalau ada proyek lagi. Saya sudah memperoleh ilmu tentang pemilihan bahan makanan, cara memasak, cara penyajian, dan menjaga makanan tetap hygenis.  Ilmu ini modal utama saya kalau ada pesanan di proyek lain mas,†ungkap Kartini.
Semua ilmu yang diadapatkan, tidaklepas dari tim pendamping yang di datangkan oleh Tripatra setiap minggu untuk menginspeksi dapur dan seluruh persediaan bahan makanan yang diamiliki.
“Awalnya sih sebel mas, karena kadang stress juga didatangi beberapa orang yang nunjuk sana nunjuk sini, kritik sana kritik sini. Sepertinya semua tidak beres. Ada bahan makanan yang sudah lama langsung diambil dan dibilang tidak layak. Pokoknya gitu deh mas, tapi kita nggak berani protes,’’ ujar Kartini.
Namun dengan seringnya diomeli tim pendamping dari Tripatra tersebut, akhirnya Kartini tersadar, harus ada paksaan untuk cepat merubah diri dan berbenah menjadi lebihbaik, jika tidak ingin diputus kontraknya olehTripatra.
“Kita didorong terus untuk berbenah, dipaksa memperbaiki kualitas. Jika minggu kemarin ditemukan kekurangan, bisa dipastikan minggu ini akan ditanya kembali, apakah kekurangan pada minggu kemarin sudah diperbaiki? Jikabelum, ya dikejar lagi kenapa belum diperbaiki? Itu yang membuat kita cepat berubah mas,†ungkap Kartini.
Hasilnya, jika dahulu CV Tegar Catering hanya berani menerima orderan makanan dari Sub Contraktor yang nilainya kecil, saat ini, dengan bantuanwarga sekitar dan 7 orang Karyawan serta 1 sopir, perusahaan tersebut berani menerima order makanan dengan nilai besar dan langsung dari PT Tripatra.
“Semua memang ada hikmahnya mas. Setelah mendapat dukungan pasokan sayur maupun buah-buahanserta bahan-bahan lain dari tetangga sekitar, kita merasa lebih siap. Kalau dulu saya cuma menerima limpahan order dari perusahaan lain, dengan bantuan sekarang sudah berani menerima order langsung,†tutur Kartini.
Kartini berharap, sepeninggal Tripatra yang akan mengakhiri proyeknya di Banyu Urip, pemerintah masih memikirkan nasib pengusaha-pengusaha lokal seperti dirinya yang sudah berjuang secara mandiri.
“Kalau diberi kesempatan yang sama, kami siap bersaing dengan pengusaha-pengusaha catering dari daerah lain,’’ ujar Kartini yakin. (roz)