Butuh Papan Pantau Ketinggian Air

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora – Ketinggian air Bengawan Solo di wilayah Kota Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, masih sulit untuk dideteksi. Pasalnya, tidak adanya papan ukur untuk mengetahui ketinggian air. Sebagaimana diketahui bahwa wilayah Cepu merupakan satu wilayah yang berada di bantaran Sungai Bengawan Solo dan menjadi wilayah rawan banjir.

Komandan Satuan Tanggap Bencana (Satgana) PMI Cepu, Moedjiono, menuturkan, di Cepu tidak ada papan pengukur ketinggian air. Hal ini sangat menyulitkan untuk mendeteksi sudah seberapa tingkat ketinggian air Bengawan Solo. Seharusnya, lanjut dia, di Cepu ada papan tersebut.

“Sehingga kita tidak tahu berapa ketinggian air di sini. Minimal untuk berjaga-jaga, meskipun lebih banyak amannya. Cepu juga masuk dalam wilayah rawan banjir Bengawan Solo,” katanya, kepada Suarabanyuurip.com, Senin (8/2/2016).

Untuk mengetahui ketinggian air dan apakah kondisi Bengawan Solo masih aman atau tidak, pihaknya mengaku sudah sering melakukan koordinasi dengan bagian Jurug yang ada di Solo.

“Sementara yang bisa kami lakukan adalah dengan berkoordinasi dari pos pantau jurug, dan saat ini masih dalam kodisi aman. Cuman arus deras diikuti sampah,” jelasnya.

Baca Juga :   Bupati Penghijauan di Puncakwangi

Sementara, Petugas Lapangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora, Agung Tri, menuturkan, bahwa di Cepu sebenarnya ada papan yang dimaksud.

“Ada papan pengukur, tapi manual dan kondisinya sudah rusak karena tidak ada yang menjaga,” ungkapnya menjelaskan.

Menurut dia, selama 3 tahun terakhir pihaknya selalu melakukan pemantauan dengan sistem survei dan estimasi.

“Artinya kita berpatokan pada posisi TMA jurug dan Karangnongko,” kata dia.

Dengan mengerti ketinggian TMA dua tempat tersebut, menurut dia, dirinya tahu estimasi waktu datang air dan ketinggian air di wilayah Kabupaten  Blora.

“Saya sudah melakukan monitoring selama tiga tahun terakhir  untuk melihat estimasi ktinggian air di wilayah Blora  apabila daerah hulu  terjadi kenaikan debit air,” ujarnya.

Saat ini, Agung mengaku, berpatokan pada ketinggian air di bawah jembatan perlintasan kereta api. “Selaian informasi dari BPBD Ngawi sama yang jaga pintu air jurug. Atas informasi tersebut saya terus keliling Menden hingga Cepu,” pungkasnya. (Ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Baca Juga :   Pemprov Jatim Siapkan Program Balik Bareng Gratis Tujuan Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *