SuaraBanyuurip.com -Totok Martono
Lamongan – Dua Kelurahan dan satu Desa di Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur masih terendam banjir. Diprediksi banjir akan semakin meluas dengan semakin tingginya air Bengawan Solo dan tingginya curah hujan.
Wilayah yang sudah empat hari dilanda banjir tersebut yaitu Kelurahan Babat, Kelurahan Banaran dan Desa Truni. Banjir terjadi sejak Selasa (9/2/2016) lalu.
Data dari posko penanggulangan bencana Kecamatan Babat, di Kelurahan Babat sebanyak 592 Rumah terendam banjir, di Kelurahan Banaran 107 Rumah dan di Desa Truni banjir merendam 40 Rumah. Selain Rumah di Desa Truni banjir juga menenggelamkan 40 hektar sawah dan 15 hektar tegal.
“Sampai saat ini petugas terus memantau kondisi di lapangan. Kami mengantisipasi semakin meluasnya banjir dikarenakan ketinggian air terus meningkat dan hujan terus turun,” kata petugas di Posko Bencana Kecamatan Babat, Fathon, kepada Suarabanyuurip.com, Jumat (12/2/2016).
Sejak pukul 12.00 WIB data yang masuk ketinggian air Bengawan Solo mencapai 7,38 meter.
Meski banjir telah berlangsung empat hari belum ada bantuan dari Pemkab Lamongan. Seperti diungkapkan Kepala Desa (Kades) Truni, Martono. Dia menuturkan, hingga saat ini belum ada bantuan dalam bentuk sembako dan lainnya.
” Belum ada bantuan apapun, Mas,” ungkap Martono.
Jika ada bantuan Kades dua periode ini mengharapkan tidak hanya sekedar bantuan sembako, namun juga bantuan uang atau bibit padi. Mengingat puluhan hektar lahan pertanian di wilayahnya juga mengalai hancur diterjang banjir.
“Padi yang diterjang banjir sudah berumur 60 hari, dan siap panen. Petani mengalami kerugian hingga Rp350 juta,” ungkapnya.
Dengan hancurnya tanaman padi tersebut, praktis perekonomian warga Truni yang mayoritas petani kolaps.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, Suprapto hingga berita ini ditulis belum bisa dikonfirmasi tentang belum adanya bantuan untuk korban banjir tersebut.(tok)