SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Meski harga minyak mentah dunia sedang anjlok. PT Bojonegoro Stupa Energi (BOSE) berharap Kerja Sama Operasi (KSO) Lapangan Malo dengan Pertamina EP bisa berjalan lancar.
“Saya dengar ada beberapa pengelola KSO yang minta izin untuk menghentikan kegiatan, paling tidak satu tahun,” ujar anggota dewan direksi PT BOSE, Deddy Affidick kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (13/2/2016).
Mantan dirut BUMD PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) ini berpendapat, dengan turunnya harga minyak dunia hingga USD 35/Barel perlu ada penghitungan ulang. Atau paling tidak menunggu kondisi stabil.
“Perusahaan-perusahaan besar saja banyak yang tiarap, apalagi yang kecil,” imbuhnya.
Perlu ada keputusan bisnis yang harus diambil. Apakah dengan harga minyak saat ini bisa untung. Karena pada saat pertama kali ikut tender KSO Malo, harga minyak masih sekitar USD 75/Barel.
Deddy belum mengetahui bagaimana komitmen PT Stupa Mahya Tama yang harus membayar signature bonus USD 550.000 ke Pertamina EP dalam waktu dekat.
“USD 550.000 itu baru signature bonus, belum untuk kegiatan apa-apa,” ungkapnya.
Untuk diketahui, PT BOSE merupakan  joint venture antara PT BBS dan PT Stupa Mahya Tama. Untuk mengelola Lapangan Malo, PT BBS akan mendapatkan keuntungan sebesar 25%. Sedangkan PT Stupa Mahya Tama 75%. (Rien)