SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Sesuatu yang mudah bisa terasa sulit bila belum tahu. Ungkapan itulah yang disampaikan dalam Lokakarya Kontraktor Lokal oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) pada di hotel Griya Dharma Kusuma Bojonegoro, Jawa Timur, kamis (18/2/2016). Sebanyak 80 peserta dari sejumlah kontraktor lokal hadir dalam acara tersebut.
“Bagi saya pelatihan seperti ini penting,” kata Muat, peserta asal Kalitidu, mengungkapkan.
Bagi dia, materi pengisian formulir penawaran dan penghitungan Tingkat Kandunan Komponen Dalam Negeri (TKDN) hal yang biasa bagi sebagian kontraktor.
Namun, kata dia, masih banyak pengusaha-pengusaha baru di sekitar wilayah operasi migas Blok Cepu yang belum faham urusan administrasi seperti itu.
“Mau tidak mau, kita harus tahu dan bisa. Karena ini syarat wajib,” imbuh Muat.
Perusahaan-perusahaan migas memiliki prosedur yang ketat dalam pengadaan. Bahkan, kata dia, tentang TKDN diatur dalam undang-undang dan peraturan pemerintah.
Jaswadi, kontraktor asal Desa Ngraho Kecamatan Gayam mengakui hal yang sama. Dia mengatakan, bekerja dengan perusahaan asing harus bersikap profesional.
“Kita dituntut untuk profesional. Tapi kan kita masih baru, harus diajari dan didampingi,” ucapnya.
Dia berharap, pelatihan seperti bisa terus dilakukan agar multiplier effect dari proyek migas bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh pengusaha lokal.
Dalam pelatihan tersebut, Merry Widawati dan Irvan Hutomo, dari bagian pengadaan EMCL menyampaikan pemaparan tentang tata cara pengisian formulir penawaran di EMCL dan penghitungan TKDN.
Juru bicara dan humas EMCL, Rexy Mawardijaya mengatakan, melalui lokakarya ini, kontraktor lokal Bojonegoro diharapkan lebih mudah dalam mengikuti proses pengadaan di EMCL.
“Kegiatan yang ketujuh kalinya ini merupakan komitmen EMCL dalam mengembangkan pemasok lokal Bojonegoro,” ujarnya.
Pengembangan rantai pemasok yang dapat diandalkan dan berdaya saing dapat berkontribusi bagi efisiensi proyek dan operasi EMCL. Proyek Banyu Urip, imbuh Rexy, terus berusaha untuk memaksimalkan pemanfaatan muatan lokal.
“Itulah alasannya mengapa kontraktor Engineering, Procurement and Construction (EPC) proyek ini terdiri dari lima perusahaan konsorsium yang dipimpin oleh perusahaan Indonesia,” jelasnya.
Pada masa puncak konstruksi, terdapat lebih dari 450 perusahaan nasional yang mendukung konsorsium tersebut sebagai subkontraktor. Lebih dari 85 persen subkontraktor tersebut berasal dari wilayah di sekitar proyek, termasuk Bojonegoro dan Tuban.
Rexy menambahkan, EMCL bekerja sama, mendampingi kontraktor lokal, membantu mereka meningkatkan standar mereka, proses pengadaannya, dan menjaga baku mutu yang ketat.
“Semua ini untuk membantu perusahaan tersebut agar dapat menangani proyek pada skala ini. Dan agar pengalaman proyek ini dapat digunakan sebagai pembelajaran untuk mengerjakan proyek lainnya dengan lebih efisien,” papar dia.
Lebih dari 150 perusahaan dan koperasi dari Bojonegoro mengikuti pelatihan pengenalan proses pengadaan.
“Tujuannya untuk memberi wawasan pengetahuan pelaku usaha lokal mengenai standar pengadaan proyek dan cara untuk terlibat dalam proses penawaran,” pungkasnya.(rien)