SuaraBanyuurip.com -Â Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro – Para pedagang kecil makan dan minuman yang terancam ditertibkan mengungkit – ungkit proses pembebasan lahan untuk proyek Lapangan Banyuurip, Blok Cepu ‎yang dilakukan beberapa tahun silam.
Sedikitnya 15 orang pedagang yang berjualan di sekitar pagar area proyek EPC-1 di dekat makam Desa Brabowan, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menolak ditertibkan
“Dulu pas pembebasan warga dirayu – rayu agar lahannya dijual, sekarang digunakan untuk berjualan saja di usir,” kata salah satu pedagang, Suparti kemarin.
Dia mengungkapkan, tidak sedikit warga Desa Brabowan yang lahannya dijual demi proyek negara. Suparti beserta pedagang lain meminta agar tetap berjualan ‎disekitar area kerja EPC-1. Terkait dengan rencana pemasangan alarm dan peralatan untuk keamanan proyek, menurutnya hanya soal teknis.
“Masih bisa dilewatkan diatas pagar atau dibikin kerekan. Masih ada jalan keluar,” tandasnya.
Dia menegaskan, tanpa ditertibkan pun jika sekiranya proyek sudah benar – benar rampung akan pergi dengan sendirinya. Pedagang lain, Kunandar mengaku kecewa dengan penertiban yang dilakukan oleh ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL).
Menurutnya meskipun lahan milik negara namun bukan serta seenaknya saja. Terlebih lahan tersebut tidak digunakan.
“Apalagi datang kesini membawa aparat,” ucapnya.
Kunandar menyebut, lahan warga dulunya dijual dengan harga yang relatif murah. Mulai dari harga Rp 9000 hingga Rp 15.000 per meter. Sebagian pedagang pun mengaku menyesal.
“Kami juga bagian negara. Kita sama – sama cari uang,” tandasnya.
Tim Sosioekonomi EMCL, Ismail mengatakan pihaknya hanya menyampaikan perintah untuk menertibkan. Pihak EMCL pun bersedia membantu membongkar sejumlah warung ‎untuk dikosongkan.
“Kami hanya menyampaikan kepada pedagang secara baik – baik,” imbuhnya.(Roz)