EMCL Dinilai Kurang Tanggap

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Operator migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) diminta meningkatkan koordinasinya dengan pemerintah desa terdampak di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur pada saat melakukan commissioning (uji coba peralatan) pada pusat fasilitas pemrosesan minyak mentah (central processing facility/CPF) Banyuurip.

Permintaan ini disampaikan Badan Lingkungkan Hidup (BLH) saat melakukan inspeksi mendadak (Sidak) menyusul munculnya bau menyengat menyerupai telur busuk yang sempat membuat sejumlah warga sekitar Lapangan Banyuurip mengalami mual, pusing dan muntah pada , Kamis (25/2/2016) lalu.

“Kami melihat EMCL kurang mensosialisasikan kegiatan komisioning ini kepada masyarakat sekitar,” kata Kasubid Pengawasan dan Kerusakan Lingkungan BLH Bojonegoro, Suliana, saat ditemui di kantornya, Rabu (2/3/2016).

Dari data yang di dapat BLH Bojonegoro, akibat bau busuk itu telah mengakibatkan 16 warga Dusun Ngrambitan dan Ledok, Desa Mojodelik, yang merasa mual, muntah, dan pusing. Bahkan satu di antaranya harus dirawat secara medis karena juga menderita sakit vertigo.

“Sementara di Dusun Temlokorejo, Desa Gayam, ada 4 orang merasakan hal sama. Satu diantaranya juga harus ditangani medis,” imbuhnya.

Baca Juga :   Pacu Produksi, Pertamina EP Amandemen Tiga Kerja Sama Operasi

Pada saat kejadian, EMCL dinilai kurang tanggap dengan kondisi tersebut. Padahal bau yang dirasakan warga sering terjadi meskipun timbul dan hilang akibat hembusan angin.

“Kami minta kepada EMCL supaya mitranya di bidang kesehatan yakni Paratazkia memberikan pelayanan maksmimal kepada masyarakat selama 24 jam,” tegasnya.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *