SuaraBanyuurip.com -Â D Suko Nugroho
Bojonegoro – PT Tri Wahana Universal (TWU), pengelola kilang mini di Dusun Clangap, Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur masih menunggu kepastian alokasi dan harga minyak mentah dari mulut sumur Lapangan Banyuurip, Blok Cepu dari pemerintah.
Satu-satunya kilang mini di Indonesia ini telah menghentikan operasinya sejak 16 Januari 2016 lalu akibat pasokan minyak mentah dari Lapangan Banyuurip terhenti.
CEO PT TWU, Rudy Tavinos menjelaskan, sesuai kontrak awal pembelian minyak Banyuurip pihaknya memperoleh alokasi 16 ribu barel per hari (BPH) dengan harga dari mulut sumur yang disepakati sejumlah pihak mulai dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC), Badan Kerja Sama (BKS) Participating Interes (PI) Blok Cepu, dan pemerintah.
“Ada delapan pihak yang tanda tangan kontrak dalam pembelian minyak ini, termasuk pemerintah,” kata Rudy saat menerima romobongan media nasional dan lokal, Kamis (10/3/2016) kemarin.
Kontrak pembelian minyak itu berlaku selama 10 tahun terhitung sejak 2010 – 2020. Namun dalam kontrak itu ada kesepakatan kontrak pembelian akan dievaluasi setiap lima tahun sekali.
Untuk kontrak lima tahun pertama telah habis pada 15 Januari 2015. Sesuai harga yang ditentukan pemerintah pada kontrak lima tahun pertama yang mengacu ICP Arjuna berubah empat kali, yakni pada 2009 dari -USD6.70 per barel, berubah menjadi -USD5.31 per barel pada 2013, dan berubah lagi menjadi – USD4.76 per barel pada 2014 dan 2015 menjadi -USD3.50 per barel.
“Nah, untuk kontrak kedua lima tahun kedepan ini pemerintah belum memberikan kepastian alokasi maupun harga minyak dari mulut sumur,” kata Rudy, mengungkapkan.
Belum adanya kepastian ini dinilai dapat mengancam iklim investasi di Indonesia. Terlebih pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No.146/2015 tentang pelaksanaan pembangunan kilang minyak di Indonesia.
“Jika tidak segera ada kepastian, ini akan menjadi preseden buruk bagi investor dan perbankan di Indonesia,” tegas Rudy.
Dia mengungkapkan, untuk membangun sebuah kilang mini dengan kapasitas 18 ribu BPH ini pihaknya telah mengeluarkan investasi senilai USD 150 juta.
“Tapi kami percaya pemerintah segera mengeluarkan alokasi dan harga. Karena ini bukan hanya untuk TWU, tapi untuk pembangunan kilang-kilang baru di Indonesia,” ujar Rudy.
Menurut dia, dengan pembangunan kilang di dekat mulut sumur minyak ini bisa memangkas biaya transportasi minyak mentah ke kilang maupun biaya distribusi BBM ke konsumen.
“Kilang mini menjadi salah satu solusi bagi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor BBM. Selain itu, juga dapat menciptakan optimalisasi produksi pada lapangan minyak mentah di daerah-daerah marginal,” pungkas alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB).(suko)