SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Koordinator tim teknis lapangan PT KrisEnergy, di wilayah Tuban, Jawa Timur, Amir, memastikan pemasangan pipa gas di pantai Desa Sobontoro, Kecamatan Tambakboyo, Tuban, tahun ini gagal. Salah satu penyebabnya tidak menentunya harga minyak internasional.
“Pemasangan pipa kemungkinan tahun 2017,†kata Amir, kepada Suarabanyuurip.com, ketika dikonfirmasi melalui teleponnya, Jumat (11/3/2016).
Sampai saat ini pihaknya belum memperoleh informasi lebih lanjut dari pusat, tetapi pemasangan pipa tidak dapat dilakukan tahun ini. Akibat belum ada kesepakatan dengan warga setempat soal pembebasan lahan.
Diketahui, planing awal pemasangan pipa ditempatkan bersebelahan dengan pelabuhan PT Holcim Indonesia. Lantaran ada sesuatu sebab, akhirnya pemasangan pipa gas menuju Kawasan Industri Tuban (KIT) dialihkan di Desa Sobontoro, Tambakboyo.
“Kami akan selesaikan pembebasan lahan terlebih dahulu,†ujarnya.
Sampai saat ini informasi yang dihimpun Suarabanyuurip.com, hampir 70 persen warga Kecamatan Tambakboyo, Tuban, masih menolak pemasangan pipa tersebut. Nelayan mengkhawatirkan pemasangan pipa baja karbon 20 inci bawah laut, mengganggu aktivitas nelayan setempat.
“Nelayan takut terjadi kebocoran serupa pipa milik JOB P-PEJ di Kecamatan Palang beberapa waktu lalu,†ungkap salah seorang pemuda Desa Tambakboyo, Kecamatan Tambakboyo, Affan, melalui pesan singkat.
Meskipun sosialisasi pernah dilakukan sekali pada tahun 2015 lalu, nelayan tetap khawatir soal keamanan pipa.
Diketahui, gas bawah laut KrisEnergy akan ditranfer melalui pipa baja, dari anjungan sumur produksi tidak berawak di Blok Bulu.
Penemuan gas saat eksplorasi Sumur Lengo 1 tahun 2008 lalu, terletak 65 Km utara Desa Bulu, Kecamatan Bancar. (Aim)