SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Sejumlah pedagang di pasar tradisional Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mengeluhkan masih tingginya harga bumbu dapur di wilayah setempat. Meskipun Pertamina telah menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), namun tidak berpengaruh terhadap harga kebutuhan dapur masyarakat.
“Masih tinggi harga bumbu dapur,” kata pedagang bumbu dapur di Pasar Baru Tuban, Marsinah (40), kepada Suarabanyuurip.com, ketika ditemui usai melayani langganannya, Rabu (16/3/2016).
Dia menjelaskan, dampak penurunan BBM hampir jarang dirasakan oleh masyarakat. Sebaliknya ketika ada rencana kenaikan BBM, harga Sembako, dan bumbu dapur sudah menjulang tinggi.
Selama ini kenaikan harga bumbu dapur, maupun Sembako dipengaruhi beberapa faktor. Diantaranya, naik turunnya BBM, jumlah stok di pengepul, dan arus distribusi barang ke daerah.
“Kalau musim hujan, bumbu dapur biasanya didatangkan dari luar Tuban,” imbuhnya.
Sehingga ada selisih cukup besar dengan harga lokal. Tercatat, pasca penurunan BBM kedua hari Selasa (15/3/2016) kemarin, harga cabai rawit menembus angka Rp 60.000 per kilogram, padahal pekan sebelumnya masih  Rp 28.000 hingga Rp 30.000 perkilogram.
Cabai kriting naik semula harganya Rp 28.000 per kilogram, naik menjadi Rp 58.000 per kilogram. Bawang merah naik dari harga Rp 15.000 per kilogram, menjadi Rp 37.000 perkilogram.
Serupa juga dialami oleh pedagang bumbu dapur di Pasar Pramuka Tuban, Atik (38), membenarkan harga bumbu dapur naik dua kali lipat.
“Naik dua kali lipat dari minggu sebelumnya,” sambungnya.
Kenaikan tersebut berlaku untuk cabai merah, cabai kriting, dan bawang merah. Sedangkan harga Tomat semula Rp 10 ribu, naik menjadi Rp 16 ribu per kilogramnya.
“Kami berharap Pemerintah Daerah (Pemda) terjun lapangan, mengontrol harga,” pintanya.
Diketahui, PT Pertamina telah menurunkan harga BBM, sebanyak dua kali selama bulan Maret 2016. Penurunan terakhir sebanyak Rp 200 per liter, berlaku untuk 4 jenis BBM meliputi, Pertamax, Pertamax Plus, Pertamina Solar Dex, dan Pertalite. (Aim)